Minggu, 19 April 2015

KOMPONEN KONSELING TRANSAKSIONAL

KONSELING TRANSAKSIONAL

NO.
KOMPONEN
URAIAN
1.
Latar Belakang Teori
Analisis transaksional awalnya dikembangkan oleh almarhum Eric Berne (1961), yang dilatih sebagai psikoanalis Freud dan psikiater. TA berevolusi dari Berne ketidakpuasan dengan lambatnya psikoanalisis dalam menyembuhkan orang-orang dari masalah mereka. Berne keberatan utama psikoanalisis adalah bahwa sudah waktunya memakan, kompleks, dan kurang dikomunikasikan kepada klien. Secara historis, TA dikembangkan sebagai perpanjangan psikoanalisis dengan konsep dan teknik khusus dirancang untuk kelompok perlakuan. Berne menemukan bahwa dengan menggunakan TA kliennya adalah membuat perubahan signifikan dalam kehidupan mereka. Sebagai teori kepribadian berevolusi, Berne berpisah dengan psikoanalisis untuk mengabdikan diri penuh waktu untuk teori dan praktek TA (Dusay, 1986).
Bern (1961) merumuskan konsep-konsep sebagian besar dari TA dengan memperhatikan apa yang dikatakan kliennya. Dia percaya anak-anak muda mengembangkan sebuah rencana pribadi untuk kehidupan mereka sebagai strategi untuk bertahan hidup fisik dan psikologis dan bahwa orang-orang yang dibentuk dari beberapa tahun pertama mereka dengan sebuah script yang mereka ikuti selama sisa hidup mereka. Dia mulai melihat keadaan ego muncul yang berkorelasi dengan pengalaman masa kecil pasiennya. Dia menyimpulkan bahwa status Ego Anak ini berbeda dari “dewasa” ego status. Kemudian ia menduga bahwa ada dua “orang dewasa” menyatakan: satu ia disebut ego Parent status, yang tampaknya menjadi sebuah salinan dari orang tua, yang lain yang merupakan bagian rasional orang, ia menamakan ego Dewasa menyatakan.
Empat fase dalam perkembangan TA telah diidentifikasi oleh Dusay dan Dusay (1989). Fase pertama (1955-1962) mulai dengan Berne ‘s identifikasi status ego (Orangtua, Dewasa, dan Anak), yang memberikan perspektif dari yang untuk menjelaskan berpikir, merasa, dan berperilaku. Dia memutuskan bahwa cara untuk mempelajari kepribadian adalah untuk mengamati di sini-dan-sekarang fenomena seperti klien suara, gerak tubuh, dan kosa kata. Kriteria diamati ini memberikan dasar untuk menyimpulkan seseorang sejarah masa lalu dan untuk memprediksi masalah masa depan. Tahap kedua (1962 – 1966) berfokus pada transaksi dan “permainan.” Masa ini merupakan masa dimana TA menjadi populer karena kosa kata lugas dan karena orang-orang bisa mengenali permainan mereka sendiri.
Pada saat ini TA untuk pertama kalinya dikenal sebagai suatu pendekatan kognitif, dengan sedikit perhatian yang diberikan terhadap emosi. Tahap ketiga (1966-1970) memberikan perhatian pada skrip lifescripts dan analisis. Sebuah internal lifescript adalah rencana yang menentukan arah kehidupan seseorang. Fase keempat (1970 sampai sekarang) dicirikan oleh penggabungan teknik-teknik baru dalam praktek TA (seperti orang-orang dari kelompok pertemuan gerakan, terapi Gestalt, dan psikodrama). TA bergerak ke arah lebih aktif dan emotif model sebagai cara untuk menyeimbangkan awal penekanan pada faktor-faktor kognitif dan wawasan (Dusay & Dusay, 1989, hal 448).
Bab ini menyoroti perluasan pendekatan Berne oleh Mary dan almarhum Robert Goulding (1979), pemimpin dari sekolah redecisional TA. The Gouldings berbeda dari pendekatan Bernian klasik dalam beberapa cara. Mereka telah digabungkan TA dengan prinsip-prinsip dan teknik-teknik terapi Gestalt, terapi keluarga, psikodrama, dan terapi perilaku.
Pendekatan yang redecisional pengalaman anggota kelompok membantu kebuntuan mereka, atau titik di mana mereka merasa terjebak. Mereka menghidupkan kembali konteks di mana mereka membuat keputusan sebelumnya, beberapa di antaranya tidak fungsional, dan mereka membuat keputusan baru yang fungsional. Redecisional terapi ini bertujuan untuk membantu orang menantang diri mereka untuk menemukan cara-cara di mana mereka menganggap diri mereka dalam peran dan victimlike untuk memimpin hidup mereka dengan memutuskan untuk diri mereka sendiri bagaimana mereka akan berubah.

2.
Konsep Dasar
Pendekatan transaksional memiliki asumsi dasar bahwa perilaku komunikasi seseorang dipengaruhi oleh ego state yang dipilihnya ,setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai sebuah transaksi yang didalamnya turut melibatkan ego state serta sebagai pengalaman dari masa kecil,setiap orang cenderung memilih salah satu dari empat kemungkinan posisi hidup.Pendekatan ini dapat digunakan pada seting individual maupun kelompok yang melibatkan kontrak yang dikembangkan oleh konseli yang dengan jelas menyebutkan tujuan dan arah dari proses terapi.Selanjutnya pendekatan ini memfokuskan pada pengambilan keputusan diawal dilakukan oleh klien dan menenkankan pada aspek kognitif ,rasional dan tingkah laku dari kepribadian dan beriorentasi pada peningkatan kesadaran sehingga konseli dapat membuat keputusan baru dan mengganti arah hidupnya.

3.
Asumsi Perilaku Bermasalah
 Pendekatan transaksional berlandaskan suatu teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu: orang tua, dewasa, anak. Sifat kontraktual proses terapeutik analisis transaksional cenderung mempersamakan kedudukan konselor dan klien. Adalah menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang akan diubahnya. Pada dasarnya, analisis transaksional  berasumsi bahwa manusia itu:
Manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa lampaunya (Manusia selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihanya). Ada tiga hal yang membuat manusia selalu berubah, yaitu :
Manusia (klien) adalah orang yang “telah cukup lama menderita”, karena itu mereka ingin bahagia dan mereka berusaha melakukan perubahan.
Adanya kebosanan, kejenuhan atau putus asa. Manusia tidak puas dengan kehidupan yang monoton, kendatipun tidak menderita bahkan berkecukupan.
Keadaan yang monoton akan melahirkan perasaan jenuh atau bosan, karena itu individu terdorong dan berupaya untuk melakukan perubahan.
2.      Manusia bisa berubah karena adanya penemuan tiba-tiba. Hal ini merupakan hasil AT yang dapat diamati. Banyak orang yang pada mulanya tidak mau atau tidak tahu dengan perubahan, tetapi dengan adanya informasi, cerita, atau pengetahuan baru yang membuka cakrawala barunya, maka ia menjadi bersemangat untuk menyelidiki terus dan berupaya melakukan perubahan.
3.      Manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemprograman awal (manusia dapat berubah asalkan ia mau). Perubahan manusia itu adalah persoalan di sini dan sekarang (here and now). Berbeda dengan psikoanalisis, yang cenderung deterministik, di mana sesuatu yang terjadi pada manusia sekarang ditilik dari masa lalunya. Bagi AT, manusia sekarang memiliki kehendak, karena itu perilaku manusia sekarang adalah persoalan sekarang dan di sini. Kendatipun ada hubungannya dengan masa lalu, tapi bukan seluruhnya perilaku hari ini ditentukan oleh pengalaman masa lalunya.
4.      Manusia bisa belajar mempercayai dirinya dirinya sendiri , berpikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-persaannya.
5.      Manusia sanggup untuk tampil di luar pola-pola kebisaaan dan menyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru.
6.      Manusia bertingkah laku dipengaruhi oleh pengharapan dan tuntutan dari orang-orang lain
7.      Manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu yang pertama dipelajari adalah berbuat sebagaimana yang diperintahkan.
8.       

4.
Tujuan Konseling
  Adapun tujuan dari konseling ini ialah:
1.  1.  Mendekontaminasikan ego state yang terganggu
2.    Membantu mengunakan ketiga ego state yang terganggu
3.   2. Membantu menggunakan ego state adult secara optimal
4.  3.  Mendorong berkembangnya life position SOKO dan lifi script baru dan produktif.

5.
Peran Dan Fungsi Konselor
Peran konselor adalah sebagai guru, pelatih dan penyelamat dengan terlibat secara penuh dengan konseli. Konselor berperan sebagai guru yang menjelaskan teknik-teknik seperti analisis struktural, analisis transaksi, naskah hidup, dan analisis game. Konselor juga membantu konseli menemukan kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan di masa lalu dan mengembangkan strategi untuk mengatasinya. 

Konselor dan konseli bekerja sebagai patner dalam konseling, konselor membantu konseli menemukan kekuatan internalnya untuk berubah dengan membuat keputusan yang sesuai
6.
Proses Konseling
 1.      Karakteristik konselor
Analisis transaksional didesain untuk mendapatkan pemahaman tentang emosional dan juga intelektual, tetapi harus difokuskan pada pada aspek-aspek yang jelas dan rasional, konselor memiliki karakteristik sebagian besar sebagai penaruh perhatian pada isu kognitif dan didaktif. Konselor membantu klien dalam hal menemukan kondisi maa lalu yang tidak menguntungkan, yaitu menentukan keputusan awal, menggunakan rencana hidup, serta mengembangkan strategi dalam hal menangani orang-orang yang pada saat ini ingin mereka pertimbangkan kembali.Konselor tidak memainkan peran sebagai pakar superior yang terpisah, dan berjauhan tempatnya, yang ada disana untuk menyembuhkan “pasien yang sakit”. Sebagian besar dari teoritikus AT menekankan pada pentingnya hubungan yang sederajat dan menunjuk pada kontrak terapi sebagai  bukti bahwa konselor dan klien adalah mitra dalam proses konseling itu. Maka, konselor membawa pengetahuan mereka dalam konteks kontrak yang jelas dan khas yang diinisiatifkan oleh klien.
Karakteristik terapis adalah sebagai penolong klien untuk mendapatkan perangkat yang dibutuhkan untuk mendapatkan perubahan.Konselor mendorong serta mengajar klien untuk menaruh kepercayaan pada Orang Dewasa, mereka sendiri dan bukan Orang Dewasanya konselor.Praktek AT kontemporer menekankan bahwa tugas kunci konselor adalah untuk membantu klien menemukan kekuatan internal mereka untuk mendapatkan perubahan dengan jalan mengambil keputusan yang lebih cocok sekarang, sebagai lawan dari terus saja hidup berdasarkan keputusan yang kuno yang telah klien buat pada masa kanak-kanak.Karakteristik sebenarnya dari konselor adalah membiarkan klien/konseli menemukan kekuatan mereka sendiri.
2.      Karakteristik Klien
Karakteristik yang dimiliki klien adalah mampu untuk dibantu membuat keputusan baru mengenai perilaku mereka pada saat ini dan arah hidup mereka. Konseli dapat mempelajari alternatif dan cara hidup yang deterministik. Esensi dari terapi adalah menggantikan suatu gaya hidup yang berciri memainkan permainan dan suratan hidup menaklukan diri sendiri yang manipulatif dengan gaya hidup yang berciri kesadaran, spontanitas, dan keakraban. Klien belajar untuk “menulis sendiri suratan hidupnya” dan bukan secara pasif “disurati” (ditentukan suratan hidupnya). Menurut Mary Goulding (1987), esensi terapi mengambil keputusan ulang terdiri dari perubahan kontraktual. Dengan melalui kerja sama, konselor dan klien menegakkan sasaran terapi yang spesifik, kemudian klien dibantu dalam hal memegang kontrol atas pikiran, perasaan dan perbuatan mereka.

7.
Teknik Konseling
Teknik konseling yang digunakan adalah:
1. Permission
Memperbolehkan klien melakukan apa yang tidak boleh dilakukan oleh orang tuanya.
2. Protection
Melindungi klien dari ketakutan karena klien disuruh melanggar terhadap peraturan orang tuanya.
3. Potency
Mendorong klien untuk menjauhkan diri klien dari injuction yang diberikan orang tuanya.
4. Operation
a). Interrogation
Mengkonfrontasikan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi pada diri klien sehingganya berkembang  respon adult dalam dirinya.
b). Specification
Mengkhususkan hal-hal yang dibicarakan sehingganya klien paham tentang ego statenya.
c). Confrontation
Menunjukkan  kesenjangan atau ketidak beresan pada diri klien
d). Explanation
Transaksi adult-adult yang terjadi antara konselor dengan klien untuk menejlaskan mengapa hal ini terjadi (konselor mengajar klien)
e). Illustration
Memberikan contoh pengajaran kepada klien agar ego statenya digunakan  secara tepat.  
f).  Confirmation
Mendorong klien untuk bekerja lebih keras lagi.
g). Interpretation
Membantu klien menyadari latar belakang dari tingkah lakunya
h). Crystallization
Menjelaskan kepada klien bahwasanya klien sudah boleh mengikuti games untuk mendapatkan stroke yang diperlukannya.

8.
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
Kelebihan Menurut Gerald Corey :
1.      Sangat berguna dan para konselor dapat dengan mudah menggunakannya.
2.      Menantang konseli untuk lebih sadar akan keputusan awal mereka.
3.      Integrasi antara konsep dan praktek analisis transaksional dengan konsep tertentu dari terapi gestalt amat berguna karena konselor bebas menggunakan prosedur dari pendekatan lain. Bab ini menyoroti perluasan pendekatan Berne oleh Mary dan almarhum Robert Goulding (1979), pemimpin dari sekolah redecisional TA. The Gouldings berbeda dari pendekatan Bernian klasik dalam beberapa cara. Mereka telah digabungkan TA dengan prinsip-prinsip dan teknik-teknik terapi Gestalt, terapi keluarga, psikodrama, dan terapi perilaku. Pendekatan yang redecisional pengalaman anggota kelompok membantu kebuntuan mereka, atau titik di mana mereka merasa terjebak. Mereka menghidupkan kembali konteks di mana mereka membuat keputusan sebelumnya, beberapa di antaranya tidak fungsional, dan mereka membuat keputusan baru yang fungsional. Redecisional terapi ini bertujuan untuk membantu orang menantang diri mereka untuk menemukan cara-cara di mana mereka menganggap diri mereka dalam peran dan victimlike untuk memimpin hidup mereka dengan memutuskan untuk diri mereka sendiri bagaimana mereka akan berubah.
4.      Memberikan sumbangan pada konseling multikultural karena konseling diawali dengan larangan mengaitkan permasalahan pribadi dengan permasalahan keluarga dan larangan mementingkan diri sendiri
Kelemahan Gerald Corey, 1982: 398)
1. Banyak Terminologi atau istilah yang digunakan dalam analisis transaksional cukup membingungkan.
2. Penekanan Analisis Transaksional pada struktur merupakan aspek yang meresahkan.
3. Konsep serta prosedurnya dipandang dari perspektif behavioral, tidak dapat di uji keilmiahannya.
4. Konseli bisa mengenali semua benda tetapi mungkin tidak merasakan dan menghayati aspek diri mereka sendiri.

9.
Contoh Penerapan













Tidak ada komentar:

Posting Komentar