KONSELING GESTALT
|
NO.
|
KOMPONEN
|
URAIAN
|
|
1.
|
Latar Belakang Teori
|
Teori
Gestalt adalah terapi humanistik eksistensial yang berlandaskan premis, bahwa
individu harus menemukan caranya sendiri dalam hidup dan menerima tanggung
jawab pribadi jika individu ingin mencapai kedewasaan. Sebagai seorang calon
konselor atau guru BK, maka sangat penting bagi kita untuk memahami teori
gestalt sebagai acuan dalam membantu klien/siswa, karena teori ini
mengajarkan pada klien bagaimana mencapai kesadaran tentang apa yang mereka
rasakan dan lakukan serta belajar bertanggung jawab atas perasaan, pikiran
dan tindakan sendiri.
|
|
2.
|
Konsep Dasar
|
Psikoterapi Gestalt menitikberatkan pada
semua yang timbul pada saat ini. Pendekatan ini tidak memperhatikan masa
lampau dan juga tidak memperhatikan yang akan datang. Jadi pendekatan Gestalt
lebih menekankan pada proses yang ada selama terapi berlangsung.
Dalam buku Geralt Corey menekankan
konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tanggung jawab pribadi,
urusan yang tak terselesaikan, penghindaran,dan menyadari saat sekarang.
Bagi Perls, tidak ada
yang “ada” kecuali “sekarang”. Karena masa lalu telah pergi dan masa depan
belum terjadi,maka saat sekaranglah yang terpenting. Guna membantu klien untk
membuat kontak dengan saat sekarang, terapis lebih suka mengajukan
pertanyaan-pertanyaan ”apa” dan “bagaimana” ketimbang “mengapa”, karena
pertanyaan mengapadapat mengarah pada pemikiran yang tak
berkesudahan tentang masa lampau yang hanya akan membangkitkan penolakan
terhadap saat sekarang.
Konsep dasar pendekatan Gestalt adalah
Kesadaran, dan sasaran utama Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Menurut
buku M.A Subandi (psikoterapi, hal. 96) kesadaran meliputi:
1.
Kesadaran akan efektif apabila didasarkan
pada dan disemangati oleh kebutuhan yang ada saat ini yang dirasakan oleh
individu
2.
Kesadaran tidak komplit tanpa pengertian
langsung tentang kenyataan suatu situasi dan bagaimana seseorang berada di
dalam situasi tersebut.
3.
Kesadaran itu selalu ada di sini-dan-saat
ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan, bukan sesuatu yang mustahil
terjadi.
Dalam buku Geralt Corey (1995), dalam
terapi Gestalt terdapat juga konsep tentang urusan yang tak terselesaikan,
yaitu mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam,
kemarahan, sakit hati, kecemasan rasa diabaikan dan sebagainya. Meskipun
tidak bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan
dan fantasi tertentu. Karena tidak terungkap dalam kesadaran, perasaan itu
tetap tinggal dan dibawa kepada kehidupan sekarang yang menghambat hubungan
yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. Dengan ini, di harapkan
klien akan dibawa kesadarannya dimasa sekarang dengan mencoba menyuruhnya
kembali kemasa lalu dan kemudian klien disuruh untuk mengungkapkan apa yang
diinginkannya saat lalu sehingga perasaan yang tak terselesaikan dulu bisa
dihadapi saat ini
|
|
3.
|
Asumsi Perilaku Bermasalah
|
Menurut ringkasan Gudnanto
(Pendekatan Konseling, 2012). Individu bermasalah, karena terjadinya
pertentangan antara kekuatan “top dog” dan “under dog”. Top dog adalah posisi
kuat yang menuntut, mangancam sedangkan under dog adalah keadaan membela
diri, tidak berdaya dan pasif. Individu bermasalah karena ketidakmampuan
seseorang dalam mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya
karena disebabkan mengalami kesenjangan antara masa sekarang dan masa yang
akan datang.
|
|
4.
|
Tujuan Konseling
|
- Tujuan
utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi
berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini
mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan
terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih
banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.
Individu yang bermasalah pada umumnya belum
memanfaatkan potensinya secara penuh, melainkan baru memanfaatkan sebagaian
dari potensinya yang dimilikinya. Melalui konseling konselor membantu klien
agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan
dikembangkan secara optimal.
Secara lebih spesifik tujuan konseling
Gestalt adalah sebagai berikut.
§ Membantu
klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau
realitas.
§ Membantu
klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya
§ Mengentaskan
klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke
mengatur diri sendiri (to be true to himself)
Meningkatkan kesadaran individual agar
klien dapat beringkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi
bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat
diatasi dengan baik
|
|
5.
|
Peran Dan Fungsi Konselor
|
Menurut ringkasan Gudnanto (Pendekatan
Konseling, 2012). Dalam pendekatan teori Gestalt ini, peran dan fungsi
konselor adalah:
1.
Memfokuskan pada perasaan klien, kesadaran
pada saat yang sedang berjalan, serta hambatan terhadap kesadaran.
2.
Tugas terapis adalah menantang klien
sehingga mereka mau memanfaatkan indera mereka sepenuhnya dan berhubungan
dengan pesan-pesan tubuh mereka.
3.
Menaruh perhatian pada bahasa tubuh klien,
sebagai petunujk non verbal.
4.
Secara halus berkonfrontasi dengan klien
guna untuk menolong mereka menjadi sadar akan akibat dari bahasa mereka.
|
|
6.
|
Proses Konseling
|
Fase
pertama, konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi
yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Pola
hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing-masing klien
mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung
kepada masalah yang harus dipecahkan.
Fase
kedua, konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti
prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Ada dua hal yang
dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu :
Membangkitkan
motivasi klien, dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari
ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Makin tinggi kesadaran klien
terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan
dirinya, sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan
konselor.
Membangkitkan
dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh
menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara
bertanggung jawab.
Fase
ketiga, konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada
saat ini, klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan
perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini. Kadang-kadang
klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor.
Melalui
fase ini, konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau
aspek-aspek kepribadian yang hilang, dari sini dapat diidentifikasi apa yang
harus dilakukan klien.
Fase
keempat, setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran,
perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan klien memasuki fase
akhir konseling.
Pada
fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas
kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.
Klien
telah memiliki kepercayaan pada potensinya, menyadari keadaan dirinya pada
saat sekarang, sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya,
perasaan-perasaannya, pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya.
Dalam
situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk
“melepaskan” diri dari konselor, dan siap untuk mengembangan potensi dirinya
|
|
7.
|
Teknik Konseling
|
Dalam ringkasan Gudnanto (Pendekatan
Konseling, 2012), prinsip kerja teknik konseling Gestalt yaitu:
1.
Penekanan tanggung jawab klien. Konselor
bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien, konselor
menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya.
2.
Orientasi sekarang dan saat ini. Konselor
tidak membangun kembali (mengulang) masalalu atau motif tidak sadar, tetapi
memfokuskan keadaan sekarang. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan
sekarang
3.
Orientasi kesadaran. Konselor meningkatkan
kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya.
Dalam buku Gerald Corey tahun 1995.
Teknik-teknik yang biasanya dipakai yaitu:
§ Permainan
Dialog
Teknik ini dilakukan dengan cara klien
dikondisikan untuk mendialogkan dua kecenderungan yang saling bertentangan
yaitu, kecenderungan top dog (adil, menuntut, dan berlaku sebagai majikan)
dan under dog (korban, bersikap tidak berdaya, membela diri, dan tak
berkuasa). Disini ada permainan kursi kosong, yaitu klien diharapkan bermain
dialog dengan memerankan top dog maupun under dog sehingga klien dapat
merasakan keduanya dan dapat melihat sudut pandang dari keduanya.
§ Teknik
Pembalikan
Teori yang melandasi teknik pembalikan
adalah teori bahwa klien terjun ke dalam suatu yang ditakutinya karena
dianggap bisa menimbulkan kecemasan, dan menjalin hubungan dengan
bagian-bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya. Gejala-gejala dan
tingkah laku sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan
yang mendasari. Jadi konselor bisa meminta klien memainkan peran yang
bertentangan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya atau pembalikan dari
kepribadiannya.
§ Bermain
Proyeksi
Memantulkan pada orang lain
perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya.
§ Tetap
dengan Perasaan
Teknik ini bisa digunakan pada saat klien
menunjuk pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang ia
sangat ingin menghindarinya. Terapi mendesak klien untuk tetap atau
menahan perasaan yang ia ingin hindari itu.
|
|
8.
|
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
|
Kelebihan
§ Terapi
Gestalt menangani masa lampau dengan membawa aspek-aspek masa lampau yang
relevan ke saat sekarang.
§ Terapi
Gestalt memberikan perhatian terhadap pesan-pesan nonverbal dan pesan-pesan
tubuh.
§ Terapi
Gestalt menolakk mengakui ketidak berdayaan sebagai alasan untuk tidak
berubah.
§ Terapi
Gestalt meletakkan penekanan pada klien untuk menemukan makna dan
penafsiran-penafsiran sendiri.
§ Terapi
Gestalt menggairahkan hubungan dan mengungkapkan perasaan langsung
menghindari intelektualisasi abstrak tentang masalah klien.
Kelemahan
§ Terapi
Gestalt tidak berlandaskan pada suatu teori yang kukuh
§ Terapi
Gestalt cenderung antiintelektual dalam arti kurang memperhitungkan
faktor-faktor kognitif.
§ Terapi
Gestalt menekankan tanggung jawab atas diri kita sendiri, tetapi mengabaikan
tanggung jawab kita kepada orang lain.
§ Teradapat
bahaya yang nyata bahwa terapis yang menguasai teknik-teknik Gestalt akan
menggunakannya secara mekanis sehingga terapis sebagai pribadi tetap
tersembunyi.
§ Para
klien sering bereaksi negative terhadap sejumlah teknik Gestalt karena merasa
dianggap tolol. Sudah sepantasnya terapis berpijak pada kerangaka yang layak
agar tidak tampak hanya sebagai muslihat-muslihat.
|
|
9.
|
Contoh Penerapan
|
1.
Menyadari adanya suatu masalah. Kita harus memahami apa
masalahnya. Kita harus dapat merumuskannya, sehingga masalah itu mendapat
batasan yang jelas. Selanjutnya masalah itu harus dianalisis.
2.
Memajukan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban atau jalan yang
mungkin memberi pemecahan masalah itu.
3.
Mengumpulkan data atau keterangan dengan mengadakan bacaan atau
mencarinya dari sumber-sumber lain seperti observasi, eksperimen.
4.
Menilai dan mencobakan hipotesis itu. Dengan
keterangan-keterangan yang diperoleh ada kemungkinan salah satu hipotesis itu
memberi jalan ke arah pemecahan masalah itu.
5.
Mengambil
kesimpulan, membuat laporan atau berbuat sesuatu berdasarkan pemecahan soal
itu.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar