KONSELING
EKLEKTIK
|
NO.
|
KOMPONEN
|
URAIAN
|
|
1.
|
Latar
Belakang Teori
|
Menurut
Thorne kepribadian seorang individu terbentuk dan tercermin sebagai interaksi
antara dirinya dengan lingkungannya. Hal ini merupakan karakteristik dari
proses berubah dan menjadi.
Dinamika
kepribadian terdiri dari serangkaian dorongan yang meliputi :
Dorongan
untuk perwujudan diri yang lebih tinggi (aktualisasi, fungsi sempurna,
integrasi).
Dorongan
untuk mencapai dan memelihara kestabilitasan diri (pemeliharaan diri, kontrol
diri, tujuan hidup, gaya hidup).
Dorongan
menggabungkan fungsi pertentangan dalam diri sehingga menghindari
ketidakseimbangan.
Suatu gaya hidup individu didasarkan pada pola karakteristik dari pencapaian
penggabungan strateginya dalam memuaskan kebutuhan dan menyesuaikan diri
dengan kenyataan (realitas) hidup. Kesadaran adalah mempertimbangkan,
mengorganisasikan, menggabungkan, dan menyatukan mekanisme penentu serta
membuat kemungkinan fungsi kepribadian yang lebih tinggi. Penggambaran diri
didefinisikan sebagai apa yang orang pikirkan tentang dirinya sedangkan
konsep diri digambarkan sebagai inti dari evaluasi diri seseorang ketika
menampakkan dirinya kepada orang lain.
Dari pandangan eklektik, perkembangan kepribadian diakui sebagai suatu
perjuangan untuk penentu ketidaksadaran afektif-impulsif dari
perilaku-perilaku melalui pembelajaran dan penyempurnaan
rasional-logika-fakultatif-kontrol perilaku.
|
|
2.
|
Konsep
Dasar
|
Kata
eklektik berarti menyeleksi, memilih doktrin yang sesuai atau metode dari
berbagai sumber atau sistem. Teori konseling eklektik menunjuk pada suatu
sistematika dalam konseling yang berpegang pada pandangan teoritis dan
pendekatan, yang merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang diambil atau
dipilih dari beberapa konsepsi serta pendekatan.
Konselor yang berpegang pada pola eklektik berpendapat bahwa mengikuti satu
orientasi teoritis serta menerapkan satu pendekatan terlalu membatasi ruang
gerak konselor sebaliknya konselor ingin menggunakan variasi dalam sudut
pandangan, prosedur dan teknik sehingga dapat melayani masing-masing konseli
sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan ciri khas masalah-masalah yang
dihadapi. Ini tidak berarti bahwa konselor berpikir dan bertindak seperti
orang yang bersikap opportunis, dalam arti diterapkan saja pandangan,
prosedur dan teknik yang kebetulan membawa hasil yang paling baik tanpa
berpegang pada prinsip-prinsip tertentu. Konselor yang berpegang pada pola
eklektik menguasai sejumlah prosedur dan teknik serta memilih dari
prosedur-prosedur dan teknik-teknik yang tersedia, mana yang dianggapnya
paling sesuai dalam melayani konseli tertentu. (Winkel, 1991: 373)
Dari pengetahuannya pada persepsi, pengembangan, pembelajaran dan
kepribadian, konselor eklektik mengembangkan metode dan memilih yang paling
sesuai dengan masalah yang dihadapi individu.
Konselor
mengembangkan pandangan eklektik yang digambarkan oleh Brammer dengan urutan
sebagai berikut :
Konselor
menolak penekanan teori secara khusus dengan mengamati dan menilai klien dan
perilaku konselor lainnya.
Konselor
mempelajari sejarah dari konseling dan psikoterapi untuk mengembangkan
pengetahuannya.
Konselor
yang mengembangkan pandangan eklektik mengetahui kepribadiannya sendiri dan
menyadari gaya interaksi yang perlu dikembangkan dalam hubungan konseling
sesuai dengan karakteristik klien yang berbeda-beda.
Teori konseling eklektik seperti yang dipersepsikan oleh Thorne membutuhkan
tanggapan dari klien tentang sejarah masa lalu mereka, situasi saat ini, dan
kemungkinan di masa yang akan datang, dengan memanfaatkan pengetahuan
perkembangan kepribadian dari ilmu biologi dan sosial. Oleh karena itu,
konselor perlu memiliki pengetahuan yang mendalam tentang perwujudan diri
individu.
Teori
konseling eklektik dibangun atas kebutuhan akan memaksimalkan intelektual
individu sebagai sumber daya untuk mengembangkan pemecahan masalah.
Penyesuaian yang salah diyakini sebagai hasil dari kegagalan klien dalam
belajar menggunakan sumber daya intelektual.
Menurut
Thorne, konseling dan psikoterapi dipahami sebagai proses pembelajaran yang
meliputi :
Mendiagnosis
faktor-faktor psikodinamika etiologi dalam rangka untuk merumuskan masalah
yang akan dipelajari.
Menyusun
suasana kondusif untuk pembelajaran.
Menguraikan
dan membimbing langkah-langkah pendidikan.
Menyediakan
kesempatan untuk praktik.
Memberi
wawasan terhadap proses yang alami dan hasilnya untuk meningkatkan motivasi
belajar.
|
|
3.
|
Asumsi
Perilaku Bermasalah
|
Eklektik memiliki
sejumlah asumsi dasar yang berkaitan dengan proses konseling, asumsi dasar
itu adalah:
1. Tidak
ada sebuah teori yang dapat menjelaskan seluruh situasi klien,
2. Pertimbangan
professional atau pribadi konselor adalah faktor penting akan keberhasilan
konseling pada bebagai tahap proses konseling
Menurut
Gilliland dkk (1984) asumsi-asumsi di atas ditunjang oleh kenyataan berikut:
1. Tidak ada dua
klien atau situasi klien yang sama.
2. Setiap klien dan
konselor adalah pribadi yang berubah dan berkembang. Tidak ada pribadi atau
situasi konseling yang sangat statis.
3. Konselor yang
efektif menunjukkan fleksibilitas dalam perbendaharaan aktivitas, berada pada
kontinum dari non direktif ke direktif.
4. Klien adalah
pihak yang paling tahu dengan problemnya.
5. Konselor
menggunakan keseluruhan sumber professional dan personal yang tersedia dalam
situasi pemberian bantuan (konseling).
6. Konselor dan
proses konseling dapat salh dan dapat tidak mampu untuk melihat secara jelas
atau cepat berhasil dalam setiap konseling atau situasi klien.
7. Kompetensi
konselor menyadari kualifikasi professional setiap personal dan
kekurangan-kekurangannya., dan kompetensi itu juga bertanggung jawab untuk
menjamin bahwa proses konseling secara etis tertangani dan dalam keadaan yang
sangat diminati klien dan masyarakat.
8. Kepuasan klien
lebih diutamakan diatas pemenuhan kebutuhan konselor.
9. Banyak perbedaan
pendekatan yang strategis berguna bagi konseptualisasi dan pemecahan setiap
masalah. Mungkin ini bukan pendekatan atau strategi terbaik.
10. Banyak masalah
yang kelihatan sebuah dilema yang tidak dapat dipecahkan dan selalu ada
bebagai alternatifnya. Untuk beberapa alternative itu adalah terbaik bagi
klien tertentu dan tidak bagi klien yang lain.
11. Secara umum,
efektifitas konseling adalah proses yang dikerjakan “dengan” atau “untuk”
klien.
|
|
4.
|
Tujuan
Konseling
|
- Tujuan
konseling menurut eklektik merupakan membantu konseli mengembangkan
integritasnya pada level tertinggi, yang ditandai oleh adanya aktualisasi
diri dan integritas yang memuaskan.
Untuk
mencapai tujuan yang idel ini maka konseli perlu dibantu untuk menyadari
sepenuhnya situasi masalahnya, mengajarkan konseli secara sadar dan intensif
memiliki latihan pengendalian di atas masalah tingkah laku. Eklektik berfokus
secara langsung pada tingkah laku, tujuan, masalah dan sebagaimana. Konselor
dalam mencapai tujuan ini dapat berperan secara bervariasi, misalnya sebagai
konselor, psikiater, guru, konsultan, fasilitator, mentor, advisor, atau pelatih.
|
|
5.
|
Peran
Dan Fungsi Konselor
|
Peran
dan Fungsi konselor eklektik sebenarnya tidak terdefinisi secara khusus.
Hanya saja dikemukakan peran konselor sangat ditentukan oleh pendekatan yang
digunakan dalam proses konseling itu. Jika dalam proses konseling itu
menggunakan psikoanalisis, maka peran konselor adalah sebagai psikoanalisis,
sementara jika pendekatan yang digunakan adalah berpusat pada konseli maka
perannya sebagai pertner konseli dalam membuka diri terhadap segenap
pengalamannya.
Beberapa
ahli eklekik memberi penekanan bahwa konselor perlu memberi perhatian kepada
konseli, menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan yang diinginkan
konseli. Pada dasarnya seluruh pendekatan berkeinginan membantu konseli
mengubah diri konseli sebagaimana yang dia alami.
|
|
6.
|
Proses
Konseling
|
Tahap
Pembukaan
Selama proses ini, konselor berusaha untuk menciptakan relasi hubungan antar
pribadi yang baik. Pada awal proses konseling, bila konseli baru mengutarakan
masalahnya serta mengungkapkan semua pikiran dan perasaannya tentang masalah
itu, digunakan banyak teknik verbal yang tidak mengandung pengarahan tegas
oleh konselor, seperti ajakan untuk mulai, refleksi pikiran dan perasaan,
klarifikasi pikiran dan perasaan, permintaan untuk melanjutkan, pengulangan
satu-dua kata, dan ringkasan sementara.
Namun,
dalam keseluruhannya proses konseling tidak dibiarkan berjalan ala kadamya,
tetapi diatur menurut urutan fase-fase penutup.
2.
Tahap Penjelasan Masalah
Konseli mengutarakan masalah atau persoalan yang dihadapi. Selama tahap
ini konselor mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil menunjukkan pemahaman
dan pengertian serta memantulkan perasaan dan pikiran yang diungkap oleh
konseli. Konselor banyak menggunakan teknik-teknik verbal yang mengandung
pengarahan minimal.
Konselor
berusaha untuk menentukan apa yang diharapkan konseli dari dirinya. Harapan
ini merupakan kebutuhan konseli pada saat sekarang dan berkaitan dengan
tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling. Kebutuhan konseli dapat
bermacam-macam, antara lain:
Konseli
membutuhkan informasi tentang sesuatu dan dia akan puas setelah mendapat
informasi yang relevan. Tanggapan konselor berupa penjelasan tentang hal yang
ditanyakan kalau dia langsung mengetahuinya, atau berupa penunjukan
sumber-sumber informasi yang relevan.
Konseli
membutuhkan dukungan moral dalam menghadapi suatu situasi kehidupan yang
sulit baginya. Konseli ingin mencurahkan isi hatinya dan mengurangi beban
batinnya dengan mengutarakan semua kepada seseorang yang dapat mendengar
dengan tenang dan bersikap empati. Tanggapan konselor dapat berupa pemberian
semangat dan keberanian serta pengangkatan hati.
Konseli
membutuhkan konfirmasi atau suatu pilihan yang telah dibuatnya. Konselor
dapat mempersilakan konseli untuk menjelaskan atas dasar
pertimbangan-pertimbangan apa ditentukan pilihan itu.
Konseli
membutuhkan bantuan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya, yang memang
belum ditemukan cara penyelesaiannya. Kebutuhan ini menjadi nyata dari
ungkapan-ungkapan konseli selama tahap penjelasan masalah.
3.
Tahap Penggalian Masalah
Konselor dan konseli bersama-sama menggali latar belakang masalah, antara
lain asal-usul permasalahan, unsur-unsur yang pokok dan tidak pokok,
pihak-pihak siapa saja yang terlibat, perasaan dan pikiran konseli
mengenai masalah yang dihadapi.
4.
Tahap Penyelesaian Masalah
Dengan berpegang pada perbedaan antara a choise case dan a change case,
konselor dan konseli membahas persoalan sampai ditemukan penyelesaian yang
tuntas dengan mengindahkan semua data dan fakta.
5.
Tahap penutup
Selama tahap ini konselor mengakhiri proses konseling, baik yang masih akan
disusul dengan konseling lain maupun yang merupakan konseling terakhir.
(Winkel, 1990:373)
|
|
7.
|
Teknik
Konseling
|
Pendapat
yang paling relevan bagi konselor yang menggunakan teknik eklektik adalah
tingkat keaktifan konselor dalam bekerja dengan konseli. Setelah menelusuri
sejarah dari dasar pemikiran tentang peran konselor, Thorne membuat
kesimpulan tentang penggunaan teknik aktif dan teknik pasif:
Metode
pasif harus digunakan bila memungkinkan.
Metode
aktif harus digunakan hanya dengan indikasi tertentu. Pada umumnya, hanya
meminimalkan campur tangan secara langsung yang diperlukan untuk
mencapai tujuan terapeutik.
Teknik
pasif biasanya menggunakan metode pilihan pada tahap awal terapi saat klien
bercerita dan untuk melepaskan emosional.
Hukum
parsimoni harus diamati setiap saat. Metode yang sulit digunakan setelah
metode sederhana gagal dilakukan.
Semua
terapi berpusat pada klien. Ini berarti bahwa kepentingan klien menjadi
pertimbangan utama. Ini tidak berarti bahwa metode aktif kontra-indikasi.
Dalam banyak kasus, kebutuhan klien menunjukkan tindakan direktif.
Memberi
kesempatan kepada setiap klien untuk menyelesaikan masalahnya secara tidak
langsung.
Metode
aktif biasanya ditunjukkan dalam situasi ketidakmampuan dimana solusi tidak
dapat dicapai tanpa kerja sama dengan orang lain.
Konseling
eklektik cenderung mengutamakan klien yang aktif dan konselor yang pasif.
Tetapi bila teknik pasif yang dilakukan konselor mengalami hambatan, maka
konselor baru menggunakan teknik aktif.
|
|
8.
|
Kelebihan
dan Keterbatasan Teori
|
Kelebihan
Keistemewaan
pendekatan ini dibandingkan dengan teori-teori lain?
Capuzzi dan Gross (1991) mengemukakan bahwa dalam penerapannya terdapat 3 aliran konseling yaitu: • Formalisme atau Puritisme Penganut formalisme akan “menerima atau tidak sama sekali”sebuah teori . seluruh kerangka teoritiknya secara bulat tanpa ada kritik sedikitpun. Teori yang tidak disetujui akan ditolak keseluruhannya. Dengan demikian penganut formalisme akan menerima apa adanya tanpa kritik. • Sinkertisme Pandangan ini beranggapan bahwa setiap teori adalah baik, efektif & positif. Kalangan sinkertisme menerapkan teori-teori yang dipelajari tanpa perlu melihat kerangka & latar belakang teori itu dikembangkan. Penganut sinkertisme akan mencampur adukan teori yang satu dengan teori lain sesuai dengan kehendak sendiri. • Eklektisme Penganut pandangan eklektik akan menyeleksi berbagai pendekatan yang ada. Prinsipnya setiap teori memiliki kelemahan dan keunggulan. Suatu teori dapat diterapkan sesuai dengan masalah klien dan situasinya. Konselor menyeleksi teori-teori yang ada & membawa kedalam kerangka menyeleksi teori-teori yang ada & membawa kedalam kerangka kerja prinsip-prinsip teoritik & prosedur praktis.
Kelemahan
Sebagaimana yang dikemukakan Gilliland dkk (1984) konseling eklektik merupakan teori konseling yang tidak memiliki teori atau prinsip khusus tentang kepribadian. Namun penganut eklektik beranggapan bahwa konselor ekslektik pada dasarnya peduli dengan teori kepribadian. Teori kepribadian eklektik pada dasarnya menggabungkan elemen-elemen yang valid dari keseluruhan teori ke dalam satu kerangka kerja untuk menjelaskan tingkah laku manusia. Thorne (1961) mengemukan konseling eklektik menggunakan data klien yang utama adalah data yang diperoleh dari studi secara individual terhadap klien yang meliputi keseluruhan kehidupan sehari-hari yang terus mengalami perubahan. Bahwa pandangan ini mencakup konsep yang terintegritas, bersifat psikologis, perubahan dinamis, aspek perkembangan organisme dan faktor sosial budaya. Integritas dimaksudkan bahwa orgaanisme berada dalam perkembangan yang terjadi secara terus menerus dan organisme itu sendiri secara konstan mengembangkan, mengubah dan mengalami integrasi pada tingkat yang berbeda. Integritas tertinggi pada individu adalah aktualisasi diri atau integritas yang memuaskan (satisfactory intigrity) dari keseluruhan kebutuhan |
|
9.
|
Contoh
Penerapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar