Minggu, 19 April 2015

KOMPONEN KONSELING EKLEKTIK

KONSELING EKLEKTIK
NO.
KOMPONEN
URAIAN
1.
Latar Belakang Teori
Menurut Thorne kepribadian seorang individu terbentuk dan tercermin sebagai interaksi antara dirinya dengan lingkungannya. Hal ini merupakan karakteristik dari proses berubah dan menjadi.
Dinamika kepribadian terdiri dari serangkaian dorongan yang meliputi :
Dorongan untuk perwujudan diri yang lebih tinggi (aktualisasi, fungsi sempurna, integrasi).
Dorongan untuk mencapai dan memelihara kestabilitasan diri (pemeliharaan diri, kontrol diri, tujuan hidup, gaya hidup).
Dorongan menggabungkan fungsi pertentangan dalam diri sehingga menghindari ketidakseimbangan.
       Suatu gaya hidup individu didasarkan pada pola karakteristik dari pencapaian penggabungan strateginya dalam memuaskan kebutuhan dan menyesuaikan diri dengan kenyataan (realitas) hidup. Kesadaran adalah mempertimbangkan, mengorganisasikan, menggabungkan, dan menyatukan mekanisme penentu serta membuat kemungkinan fungsi kepribadian yang lebih tinggi. Penggambaran diri didefinisikan sebagai apa yang orang pikirkan tentang dirinya sedangkan konsep diri digambarkan sebagai inti dari evaluasi diri seseorang ketika menampakkan dirinya kepada orang lain.
     Dari pandangan eklektik, perkembangan kepribadian diakui sebagai suatu perjuangan untuk penentu ketidaksadaran afektif-impulsif dari perilaku-perilaku melalui pembelajaran dan penyempurnaan rasional-logika-fakultatif-kontrol perilaku.

2.
Konsep Dasar
Kata eklektik berarti menyeleksi, memilih doktrin yang sesuai atau metode dari berbagai sumber atau sistem. Teori konseling eklektik menunjuk pada suatu sistematika dalam konseling yang berpegang pada pandangan teoritis dan pendekatan, yang merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang diambil atau dipilih dari beberapa konsepsi serta pendekatan. 
        Konselor yang berpegang pada pola eklektik berpendapat bahwa mengikuti satu orientasi teoritis serta menerapkan satu pendekatan terlalu membatasi ruang gerak konselor sebaliknya konselor ingin menggunakan variasi dalam sudut pandangan, prosedur dan teknik sehingga dapat melayani masing-masing konseli sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan ciri khas masalah-masalah yang dihadapi. Ini tidak berarti bahwa konselor berpikir dan bertindak seperti orang yang bersikap opportunis, dalam arti diterapkan saja pandangan, prosedur dan teknik yang kebetulan membawa hasil yang paling baik tanpa berpegang pada prinsip-prinsip tertentu. Konselor yang berpegang pada pola eklektik menguasai sejumlah prosedur dan teknik  serta memilih dari prosedur-prosedur dan teknik-teknik yang tersedia, mana yang dianggapnya paling sesuai dalam melayani konseli tertentu. (Winkel, 1991: 373)
        Dari pengetahuannya pada persepsi, pengembangan, pembelajaran dan kepribadian, konselor eklektik mengembangkan metode dan memilih yang paling sesuai dengan masalah yang dihadapi individu.
Konselor mengembangkan pandangan eklektik yang digambarkan oleh Brammer dengan urutan sebagai berikut :
Konselor menolak penekanan teori secara khusus dengan mengamati dan menilai klien dan perilaku konselor lainnya.
Konselor mempelajari sejarah dari konseling dan psikoterapi untuk mengembangkan pengetahuannya.
Konselor yang mengembangkan pandangan eklektik mengetahui kepribadiannya sendiri dan menyadari gaya interaksi yang perlu dikembangkan dalam hubungan konseling sesuai dengan karakteristik klien yang berbeda-beda.
      Teori konseling eklektik seperti yang dipersepsikan oleh Thorne membutuhkan tanggapan dari klien tentang sejarah masa lalu mereka, situasi saat ini, dan kemungkinan di masa yang akan datang, dengan memanfaatkan pengetahuan perkembangan kepribadian dari ilmu biologi dan sosial. Oleh karena itu, konselor perlu memiliki pengetahuan yang mendalam tentang perwujudan diri individu.
Teori konseling eklektik dibangun atas kebutuhan akan memaksimalkan intelektual individu sebagai sumber daya untuk mengembangkan pemecahan masalah. Penyesuaian yang salah diyakini sebagai hasil dari kegagalan klien dalam belajar menggunakan sumber daya intelektual.
Menurut Thorne, konseling dan psikoterapi dipahami sebagai proses pembelajaran yang meliputi :
Mendiagnosis faktor-faktor psikodinamika etiologi dalam rangka untuk merumuskan masalah yang akan dipelajari.
Menyusun suasana kondusif untuk pembelajaran.
Menguraikan dan membimbing langkah-langkah pendidikan.
Menyediakan kesempatan untuk praktik.
Memberi wawasan terhadap proses yang alami dan hasilnya untuk meningkatkan motivasi belajar.

3.
Asumsi Perilaku Bermasalah
 Eklektik memiliki sejumlah asumsi dasar yang berkaitan dengan proses konseling, asumsi dasar itu adalah:
1. Tidak ada sebuah teori yang dapat menjelaskan seluruh situasi klien,
2. Pertimbangan professional atau pribadi konselor adalah faktor penting akan keberhasilan konseling pada bebagai tahap proses konseling
Menurut Gilliland dkk (1984) asumsi-asumsi di atas ditunjang oleh kenyataan berikut:
1. Tidak ada dua klien atau situasi klien yang sama.
2. Setiap klien dan konselor adalah pribadi yang berubah dan berkembang. Tidak ada pribadi atau situasi konseling yang sangat statis.
3. Konselor yang efektif menunjukkan fleksibilitas dalam perbendaharaan aktivitas, berada pada kontinum dari non direktif ke direktif.
4. Klien adalah pihak yang paling tahu dengan problemnya.
5. Konselor menggunakan keseluruhan sumber professional dan personal yang tersedia dalam situasi pemberian bantuan (konseling).
6. Konselor dan proses konseling dapat salh dan dapat tidak mampu untuk melihat secara jelas atau cepat berhasil dalam setiap konseling atau situasi klien.
7. Kompetensi konselor menyadari kualifikasi professional setiap personal dan kekurangan-kekurangannya., dan kompetensi itu juga bertanggung jawab untuk menjamin bahwa proses konseling secara etis tertangani dan dalam keadaan yang sangat diminati klien dan masyarakat.
8. Kepuasan klien lebih diutamakan diatas pemenuhan kebutuhan konselor.
9. Banyak perbedaan pendekatan yang strategis berguna bagi konseptualisasi dan pemecahan setiap masalah. Mungkin ini bukan pendekatan atau strategi terbaik.
10. Banyak masalah yang kelihatan sebuah dilema yang tidak dapat dipecahkan dan selalu ada bebagai alternatifnya. Untuk beberapa alternative itu adalah terbaik bagi klien tertentu dan tidak bagi klien yang lain.
11. Secara umum, efektifitas konseling adalah proses yang dikerjakan “dengan” atau “untuk” klien.

4.
Tujuan Konseling
-      Tujuan konseling menurut eklektik merupakan membantu konseli mengembangkan integritasnya pada level tertinggi, yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan.
Untuk mencapai tujuan yang idel ini maka konseli perlu dibantu untuk menyadari sepenuhnya situasi masalahnya, mengajarkan konseli secara sadar dan intensif memiliki latihan pengendalian di atas masalah tingkah laku. Eklektik berfokus secara langsung pada tingkah laku, tujuan, masalah dan sebagaimana. Konselor dalam mencapai tujuan ini dapat berperan secara bervariasi, misalnya sebagai konselor, psikiater, guru, konsultan, fasilitator, mentor, advisor, atau pelatih.

5.
Peran Dan Fungsi Konselor
Peran dan Fungsi konselor eklektik sebenarnya tidak terdefinisi secara khusus. Hanya saja dikemukakan peran konselor sangat ditentukan oleh pendekatan yang digunakan dalam proses konseling itu. Jika dalam proses konseling itu menggunakan psikoanalisis, maka peran konselor adalah sebagai psikoanalisis, sementara jika pendekatan yang digunakan adalah berpusat pada konseli maka perannya sebagai pertner konseli dalam membuka diri terhadap segenap pengalamannya.
Beberapa ahli eklekik memberi penekanan bahwa konselor perlu memberi perhatian kepada konseli, menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan yang diinginkan konseli. Pada dasarnya seluruh pendekatan berkeinginan membantu konseli mengubah diri konseli sebagaimana yang dia alami.

6.
Proses Konseling
 Tahap Pembukaan
        Selama proses ini, konselor berusaha untuk menciptakan relasi hubungan antar pribadi yang baik. Pada awal proses konseling, bila konseli baru mengutarakan masalahnya serta mengungkapkan semua pikiran dan perasaannya tentang masalah itu, digunakan banyak teknik verbal yang tidak mengandung pengarahan tegas oleh konselor, seperti ajakan untuk mulai, refleksi pikiran dan perasaan, klarifikasi pikiran dan perasaan, permintaan untuk melanjutkan, pengulangan satu-dua kata, dan ringkasan sementara.
Namun, dalam keseluruhannya proses konseling tidak dibiarkan berjalan ala kadamya, tetapi diatur menurut urutan fase-fase penutup. 
2.    Tahap Penjelasan Masalah
       Konseli mengutarakan masalah atau persoalan yang dihadapi.  Selama tahap ini konselor mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil menunjukkan pemahaman dan pengertian serta memantulkan perasaan dan pikiran yang diungkap oleh konseli. Konselor banyak menggunakan teknik-teknik verbal yang mengandung pengarahan minimal.
Konselor berusaha untuk menentukan apa yang diharapkan konseli dari dirinya. Harapan ini merupakan kebutuhan konseli pada saat sekarang dan berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling. Kebutuhan konseli dapat bermacam-macam, antara lain:
Konseli membutuhkan informasi tentang sesuatu dan dia akan puas setelah mendapat informasi yang relevan. Tanggapan konselor berupa penjelasan tentang hal yang ditanyakan kalau dia langsung mengetahuinya, atau berupa penunjukan sumber-sumber informasi yang relevan.
Konseli membutuhkan dukungan moral dalam menghadapi suatu situasi kehidupan yang sulit baginya. Konseli ingin mencurahkan isi hatinya dan mengurangi beban batinnya dengan mengutarakan semua kepada seseorang yang dapat mendengar dengan tenang dan bersikap empati. Tanggapan konselor dapat berupa pemberian semangat dan keberanian serta pengangkatan hati.
Konseli membutuhkan konfirmasi atau suatu pilihan yang telah dibuatnya. Konselor dapat mempersilakan konseli untuk menjelaskan atas dasar pertimbangan-pertimbangan apa ditentukan pilihan itu.
Konseli membutuhkan bantuan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya, yang memang belum ditemukan cara penyelesaiannya. Kebutuhan ini menjadi nyata dari ungkapan-ungkapan konseli selama tahap penjelasan masalah.
3.    Tahap Penggalian Masalah
     Konselor dan konseli bersama-sama menggali latar belakang masalah, antara lain asal-usul permasalahan, unsur-unsur yang pokok dan tidak pokok, pihak-pihak siapa saja yang terlibat, perasaan dan pikiran konseli  mengenai masalah yang dihadapi.
4.    Tahap Penyelesaian Masalah
     Dengan berpegang pada perbedaan antara a choise case dan a change case, konselor dan konseli membahas persoalan sampai ditemukan penyelesaian yang tuntas dengan mengindahkan semua data dan fakta.
5.    Tahap penutup
      Selama tahap ini konselor mengakhiri proses konseling, baik yang masih akan disusul dengan konseling lain maupun yang merupakan konseling terakhir. (Winkel, 1990:373)

7.
Teknik Konseling
 Pendapat yang paling relevan bagi konselor yang menggunakan teknik eklektik adalah tingkat keaktifan konselor dalam bekerja dengan konseli. Setelah menelusuri sejarah dari dasar pemikiran tentang peran konselor, Thorne membuat kesimpulan tentang penggunaan teknik aktif dan teknik pasif:
Metode pasif harus digunakan bila memungkinkan.
Metode aktif harus digunakan hanya dengan indikasi tertentu. Pada umumnya, hanya meminimalkan campur tangan secara langsung yang  diperlukan untuk mencapai tujuan terapeutik.
Teknik pasif biasanya menggunakan metode pilihan pada tahap awal terapi saat klien bercerita dan untuk melepaskan emosional.
Hukum parsimoni harus diamati setiap saat. Metode yang sulit digunakan setelah metode sederhana gagal dilakukan.
Semua terapi berpusat pada klien. Ini berarti bahwa kepentingan klien menjadi pertimbangan utama. Ini tidak berarti bahwa metode aktif kontra-indikasi. Dalam banyak kasus, kebutuhan klien menunjukkan tindakan direktif.
Memberi kesempatan kepada setiap klien untuk menyelesaikan masalahnya secara tidak langsung.
Metode aktif biasanya ditunjukkan dalam situasi ketidakmampuan dimana solusi tidak dapat dicapai tanpa kerja sama dengan orang lain.
Konseling eklektik cenderung mengutamakan klien yang aktif dan konselor yang pasif. Tetapi bila teknik pasif yang dilakukan konselor mengalami hambatan, maka konselor baru menggunakan teknik aktif.

8.
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
Kelebihan
Keistemewaan pendekatan ini dibandingkan dengan teori-teori lain?
Capuzzi dan Gross (1991) mengemukakan bahwa dalam penerapannya terdapat 3 aliran konseling yaitu:
• Formalisme atau Puritisme
Penganut formalisme akan “menerima atau tidak sama sekali”sebuah teori . seluruh kerangka teoritiknya secara bulat tanpa ada kritik sedikitpun. Teori yang tidak disetujui akan ditolak keseluruhannya. Dengan demikian penganut formalisme akan menerima apa adanya tanpa kritik.
• Sinkertisme
Pandangan ini beranggapan bahwa setiap teori adalah baik, efektif & positif. Kalangan sinkertisme menerapkan teori-teori yang dipelajari tanpa perlu melihat kerangka & latar belakang teori itu dikembangkan. Penganut sinkertisme akan mencampur adukan teori yang satu dengan teori lain sesuai dengan kehendak sendiri.
• Eklektisme
Penganut pandangan eklektik akan menyeleksi berbagai pendekatan yang ada. Prinsipnya setiap teori memiliki kelemahan dan keunggulan. Suatu teori dapat diterapkan sesuai dengan masalah klien dan situasinya. Konselor menyeleksi teori-teori yang ada & membawa kedalam kerangka menyeleksi teori-teori yang ada & membawa kedalam kerangka kerja prinsip-prinsip teoritik & prosedur praktis.

Kelemahan

Sebagaimana yang dikemukakan Gilliland dkk (1984) konseling eklektik merupakan teori konseling yang tidak memiliki teori atau prinsip khusus tentang kepribadian. Namun penganut eklektik beranggapan bahwa konselor ekslektik pada dasarnya peduli dengan teori kepribadian. Teori kepribadian eklektik pada dasarnya menggabungkan elemen-elemen yang valid dari keseluruhan teori ke dalam satu kerangka kerja untuk menjelaskan tingkah laku manusia. Thorne (1961) mengemukan konseling eklektik menggunakan data klien yang utama adalah data yang diperoleh dari studi secara individual terhadap klien yang meliputi keseluruhan kehidupan sehari-hari yang terus mengalami perubahan. Bahwa pandangan ini mencakup konsep yang terintegritas, bersifat psikologis, perubahan dinamis, aspek perkembangan organisme dan faktor sosial budaya. Integritas dimaksudkan bahwa orgaanisme berada dalam perkembangan yang terjadi secara terus menerus dan organisme itu sendiri secara konstan mengembangkan, mengubah dan mengalami integrasi pada tingkat yang berbeda. Integritas tertinggi pada individu adalah aktualisasi diri atau integritas yang memuaskan (satisfactory intigrity) dari keseluruhan kebutuhan
9.
Contoh Penerapan













Tidak ada komentar:

Posting Komentar