Minggu, 19 April 2015

KOMPONEN KONSELING REALITAS

KONSELING REALITAS

NO
KOMPONEN
URAIAN
1.
Latar Belakang Teori
Konseling realitas merupakan model konseling yang termasuk kelompok konseling cognitive-behavioral(perilaku-kognitif). Pendekatan konseling realitas dikembangkan oleh William Glasser dengan nama Reality Therapy (Terapi Realitas). Menurut pendekatan konseling realitas, konseling pada dasarnya merupakan proses belajar yang menekankan dialog rasional antara konselor dan konseli dengan tujuan agar konseli mau memikul tanggung jawab bagi dirinya dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
2.
Konsep Dasar
Perilaku manusia digerakkan untuk memenuhi kebutuhan, kebutuhan fisiologis maupun kebutuhan  psikologis.  Kebutuhan  fisiologis  untuk  bertahan  hidup sedangkan kebutuhan psikologis untuk memiliki,  berkuasa,  kebebasan, kesenangan.
Pandangannya Willian Glasser terhadap hakikat manusia adalah:
-       Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal, yang hadir di seluruh kehidupannya, sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya.
-       Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses.
-       Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri

3.
Asumsi Perilaku Bermasalah
 Reality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku individu itu sebagai perilaku yang abnormal. Konsep perilaku menurut konseling realitas lebih dihubungkan dengan berperilaku yang tepat atau berperilaku yang tidak tepat. Menurut Glasser, bentuk dari perilaku yang tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidak mampuannya dalam memuaskan kebutuhannya, akibatnya kehilangan ”sentuhan” dengan realitas objektif, dia tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran, tangguang jawab dan realitas.
Meskipun konseling realitas tidak menghubungkan perilaku manusia dengan gejala abnormalitas, perilaku bermasalah dapat disepadankan dengan istilah ”identitas kegagalan”. Identitas kegagalan ditandai dengan keterasingan, penolakan diri dan irrasionalitas, perilakunya kaku, tidak objektif, lemah, tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri dan menolak kenyataan.
Menurut Glasser (1965, hlm.9), basis dari terapi realitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencangkup “kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kkebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi oaring lain”.
Pandangan tentang sifat manusia mencakup pernyataan bahwa suatu “kekuatan pertumbuhan” mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Penderitaan pribadi bisa diubah hanya dengan perubahan identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individu-individu bisa mengubaha cara hidup, perasaan, dan tingkah lakunya, maka merekapun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas tergantung pada perubahan tingkah laku.
Maka jelaslah bahwa terapi realitas yidak berpijak pada filsafat deterministik tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Perinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang memilkiki tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Tampaknya, orang menjadi apa yang ditetapkannya.

4.
Tujuan Konseling
1.    1.  Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata.
2.    2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya.
3.    3. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4.    4.Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri.
5.    5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.

5.
Peran Dan Fungsi Konselor
PERAN KONSELOR :
§  Konselor terlibat dengan klien membawa klien menghadapi realita
§  Tidak membuat pertimbangan nilai dan keputusan bagiklien
§  Mengajarkan konseli membuat rencana & ketrampilan
§  Bertindak tegas
§  Pembimbing
§  Moralis
§   Memberi hadiah
§  Mengajar klien

FUNGSI KONSELOR :
§  Terlibat dengan klien dan kemudian membawa lien menghadapi realita
§  Sebagai pembimbing untuk membantu akan menafsirkan tingkah laku mereka secara ralistis
§  Keterlibatan (Involument)
§  Sebagai contoh perilaku yang baik

6.
Proses Konseling
1.    1.  Motivator, yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya; dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkan dirinya sendiri.
2.    2. Penyalur tanggung jawab, sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli; (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri.
3.    3. Moralist; yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya.
4.    4. Guru; yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya.
5.    5. Pengikat janji (contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya.

7.
Teknik Konseling
1.  Melakukan permainan peran dengan konseli
2. Menggunakan humor
3. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan
4. Tidak menerima alasan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab
5.  Berperan sebagai model dan guru
6.  Melibatkan diri pada perjuangan konseli mencari hidup yang efektif
7.  Konfrontasi tingkah laku yang tidak realistis
8.  Memberikan PR antar pertemuan dengan pertemuan berikutnya
9.   Membaca artikel yang relevan
10. Kesepakatan kontrak antara konselor dan konseli
11. Debat konstruktif

8.
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
Kelebihan Konseling Realitas
1)      dapat diterapkan pada banyak populasi yang berbeda.
2)      Pendekatan konkret.
3)      menekankan pada treatmen jangka pendek
4)      meningkatkan tanggung jawab dan kebebasan individu tanpa penyalahan atau kritik atau berusaha mengatur kembali keseluruhan kepribadian.
5)      dimaksudkan untuk resolusi konflik
Kekurangan Konseling Realitas
1)      mengabaikan konsep-konsep ketidaksadaran dan sejarah pribadi
2)      Meyakini bahwa penyakit mental terjadi krn individu bertindak tidak bertanggung jawab, padahal penyakit mental tidak terjadi begitu saja.
3)      terlalu sederhana dan hanya punya sedikit konstruk teoritis 
4)      mudah sekali berubah menjadi terlalu moralistik.

9.
Contoh Penerapan












Tidak ada komentar:

Posting Komentar