KONSELING REALITAS
|
NO
|
KOMPONEN
|
URAIAN
|
|
1.
|
Latar Belakang Teori
|
Konseling realitas
merupakan model konseling yang termasuk kelompok konseling cognitive-behavioral(perilaku-kognitif). Pendekatan konseling realitas dikembangkan oleh
William Glasser dengan nama Reality
Therapy (Terapi Realitas).
Menurut pendekatan konseling realitas, konseling pada dasarnya merupakan
proses belajar yang menekankan dialog rasional antara konselor dan konseli
dengan tujuan agar konseli mau memikul tanggung jawab bagi dirinya dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya.
|
|
2.
|
Konsep Dasar
|
Perilaku
manusia digerakkan untuk memenuhi kebutuhan, kebutuhan fisiologis maupun
kebutuhan psikologis. Kebutuhan fisiologis
untuk bertahan hidup sedangkan kebutuhan psikologis untuk
memiliki, berkuasa, kebebasan, kesenangan.
Pandangannya
Willian Glasser terhadap hakikat manusia adalah:
-
Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal, yang
hadir di seluruh kehidupannya, sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan
dalam kepribadiannnya.
-
Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh
dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Karennya
dia dapat menjadi seorang individu yang sukses.
-
Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan
terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya
menentukan nasibnya sendiri
|
|
3.
|
Asumsi Perilaku Bermasalah
|
Reality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku
individu itu sebagai perilaku yang abnormal. Konsep perilaku menurut
konseling realitas lebih dihubungkan dengan berperilaku yang tepat atau
berperilaku yang tidak tepat. Menurut Glasser, bentuk dari perilaku yang
tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidak mampuannya dalam memuaskan
kebutuhannya, akibatnya kehilangan ”sentuhan” dengan realitas objektif, dia
tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melihat
sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar
kebenaran, tangguang jawab dan realitas.
Meskipun
konseling realitas tidak menghubungkan perilaku manusia dengan gejala
abnormalitas, perilaku bermasalah dapat disepadankan dengan istilah
”identitas kegagalan”. Identitas kegagalan ditandai dengan keterasingan,
penolakan diri dan irrasionalitas, perilakunya kaku, tidak objektif, lemah,
tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri dan menolak kenyataan.
Menurut
Glasser (1965, hlm.9), basis dari terapi realitas adalah membantu para klien
dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencangkup
“kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kkebutuhan untuk merasakan
bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi oaring
lain”.
Pandangan tentang sifat manusia mencakup pernyataan bahwa suatu “kekuatan pertumbuhan” mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Penderitaan pribadi bisa diubah hanya dengan perubahan identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individu-individu bisa mengubaha cara hidup, perasaan, dan tingkah lakunya, maka merekapun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas tergantung pada perubahan tingkah laku.
Maka
jelaslah bahwa terapi realitas yidak berpijak pada filsafat deterministik
tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yang
menentukan dirinya sendiri. Perinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing
orang memilkiki tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari
tingkah lakunya sendiri. Tampaknya, orang menjadi apa yang ditetapkannya.
|
|
4.
|
Tujuan Konseling
|
1. 1. Menolong individu agar
mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan
perilaku dalam bentuk nyata.
2. 2. Mendorong konseli agar
berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan
kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya.
3. 3. Mengembangkan
rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
4. 4.Perilaku yang sukses
dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang
dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk
mengubahnya sendiri.
5. 5. Terapi ditekankan pada
disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.
|
|
5.
|
Peran Dan Fungsi Konselor
|
PERAN
KONSELOR :
§ Konselor
terlibat dengan klien membawa klien menghadapi realita
§ Tidak
membuat pertimbangan nilai dan keputusan bagiklien
§ Mengajarkan
konseli membuat rencana & ketrampilan
§ Bertindak
tegas
§ Pembimbing
§ Moralis
§ Memberi
hadiah
§ Mengajar
klien
FUNGSI
KONSELOR :
§ Terlibat
dengan klien dan kemudian membawa lien menghadapi realita
§ Sebagai
pembimbing untuk membantu akan menafsirkan tingkah laku mereka secara
ralistis
§ Keterlibatan
(Involument)
§ Sebagai
contoh perilaku yang baik
|
|
6.
|
Proses Konseling
|
1. 1. Motivator, yang mendorong
konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam
perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya; dan (b) merangsang klien
untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi
individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkan
dirinya sendiri.
2. 2. Penyalur tanggung
jawab, sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli; (b) konseli
sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai
perilakunya sendiri.
3. 3. Moralist; yang
memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang
dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung
jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat
bertanggung jawab terhadap perilakunya.
4. 4. Guru; yang berusaha
mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai
harapannya.
5. 5. Pengikat janji
(contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan, baik
berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi
maupun akibat yang ditimbulkannya.
|
|
7.
|
Teknik Konseling
|
1. Melakukan permainan peran dengan
konseli
2. Menggunakan
humor
3. Mengajukan
pertanyaan-pertanyaan
4. Tidak
menerima alasan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab
5. Berperan
sebagai model dan guru
6. Melibatkan
diri pada perjuangan konseli mencari hidup yang efektif
7. Konfrontasi
tingkah laku yang tidak realistis
8. Memberikan
PR antar pertemuan dengan pertemuan berikutnya
9. Membaca
artikel yang relevan
10. Kesepakatan
kontrak antara konselor dan konseli
11. Debat
konstruktif
|
|
8.
|
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
|
Kelebihan Konseling
Realitas
1) dapat
diterapkan pada banyak populasi yang berbeda.
2) Pendekatan
konkret.
3) menekankan
pada treatmen jangka pendek
4) meningkatkan
tanggung jawab dan kebebasan individu tanpa penyalahan atau kritik atau
berusaha mengatur kembali keseluruhan kepribadian.
5) dimaksudkan
untuk resolusi konflik
Kekurangan Konseling
Realitas
1) mengabaikan
konsep-konsep ketidaksadaran dan sejarah pribadi
2) Meyakini bahwa penyakit
mental terjadi krn individu bertindak tidak bertanggung jawab, padahal
penyakit mental tidak terjadi begitu saja.
3) terlalu
sederhana dan hanya
punya sedikit konstruk teoritis
4) mudah
sekali berubah menjadi terlalu moralistik.
|
|
9.
|
Contoh Penerapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar