Minggu, 19 April 2015

KOMPONEN BEHAVIORISTIK

KONSELING BEHAVIORISTIK

NO.
KOMPONEN
URAIAN
1.
Latar Belakang Teori
Perilaku merupakan kegiatan organisme yang dapat diamati (Rita L. Atkinson, 1999:8). Dengan pendekatan perilaku, tokoh psikologi asal Amerika Serikat John B. Watson mempelajari individu. Menurut Watson individu tidak dapat dipelajari dengan pendekatan instropeksi karena hanya individu itu sendirilah yang dapat mengintropeksi pengamatan dan perasaannya sendiri. Dari pendapat Watson inilah munculnya aliran behaviorisme. Behaviorisme menurut Gerald Corey (2003:197-198) adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia.
2.
Konsep Dasar
Dalam pendekatan behavioristik memandang bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan – kecenderungan positif dan negatif yang sama. Kecenderungan itu dibentuk oleh kondisi sosial dan budaya. Para behavioris menyakini bahwa lingkungan dan faktor genetik menentukan tingkah laku, namun pembuatan putusan yang dilakukan oleh individu merupakan tingkah laku. Behavioris cenderung memandang manusia sebagai organisme pemberi respons sehingga manusia dikategorikan sebagai makhluk yang mekanistik, tidak sebagai makhluk otonom yang bebas menentukan nasibnya sendiri. Bahkan dalam behaviorisme radikal tidak memberi tempat kepada asumsi bahwa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh pilihan dan kebebasan.
3.
Asumsi Perilaku Bermasalah
 Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tingkah laku yang salah hakekatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungan.

Tingkah laku maladaftif terjadi karena kesalahpahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar

4.
Tujuan Konseling
-        Menurut Corey (2003: 202) menyatakan bahwa tujuan umum terapi tingkahlaku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar.
-       Tujuan konseling Behavior Secara Umum:
a. Menciptakan kondisi baru pembelajar.
b. Menghapus tingkah laku maladaptive untuk digantikan perilaku yang adaptif.
c. Meningkatkan personality choice.

5.
Peran Dan Fungsi Konselor
Hakikatnya  fungsi dan peranan  konselor  terhadap  konseli  dalam  teori  behavioral 
ini adalah  :
Mengaplikasikan  prinsip  dari  mempelajari  manusia  untuk 
Memberifasilitas  pada  penggantian  perilaku  maladaptif 
dengan perilaku  yang  lebih adaptif.
Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan  seseorang dari  perilaku yang  mengganggu  kehidupan  yang efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki  sepanjang sasaran itu  sesuai  dengan  kebaikan masyarakat secara umum.

6.
Proses Konseling
 Proses konseling dibingkai dalam bentuk kerangka kerja dalam membantu konseli untuk mengubah tingkah lakunya. Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut, dengan cara mendorong konseli untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Konseling behavioral memiliki empat tahap dalam proses konseling, yaitu :
1.  Melakukan Assesment
Langkah awal kerja konselor adalah melakukan asesmen. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi metode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.
2.  Menetapkan Tujuan (Goal Setting)
Dalam hal ini Konselor dan konseli bersama-sama mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan konseli, yang terkait dengan :
-       Apakah merupakan tujuan yang  benar-benar diinginkan konseli
-       Apakah tujuan itu realistik
-       Bagaimana kemungkinan manfaatnya
      -     Bagaimana kemungkinan kerugiannya.
3.   Implementasi Teknik (Technique Implementation)
Setelah tujuan konseling dirumuskan, konselor dan konseli menentukan strategi belajar yang terbaik untuk membantu konseli mencpai perubahan tingkah laku yang diinginkan. Konselor dan konseli mengimplementasikan teknik-teknik konseling sesuai dengan masalah yang dialami konseli. Dalam implimentasi teknik konselor membandingkan perubahan tingkah laku antara baseline data dengan intervensi.
4.   Evaluasi  dan Pengakhiran
        Evaluasi konseling behavioral merupakan proses yang berkesinambungan. Tingkah laku konseli digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konselor dan efektivitas tertentu dari teknik yang digunakan.
Dalam hal ini konselor dan konseli mengevaluasi implementasi teknik yang telah dilakukan serta menentukan lamanya intervensi dilaksanakan sampai tingkah laku yang diharapkan menetap.

7.
Teknik Konseling
Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna diantaranya un tuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkap afeksi dan respon positif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konsealor dan diskusi-diskusi kelompok.

Desensitisasi Sistematis
Desensititasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks

Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.
8.
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
Kelebihan
Kelebihan dari teori konseling behavioral adalah :
Dengan memfokuskan pada perilaku khusus bahwa klien dapat berubah, konselor dapat membantu klien kea rah pengertian yang lebih baik terhadap apa yang harus dilakukan sebagai bagian dari proses konseling.
Dengan menitikberatkan pada tingkah laku khusus, memudahkan dalam menentukan criteria keberhasilan proses konseling
Memberikan peluang pada konselor untuk dapat menggunakan berbagai teknik khusus guna menghasilkan perubahan perilaku.
Keterbatasan
Keterbatasan Teori Konseling Behavioral adalah :
Kurangnya kesempatan bagi klien untuk terlibat kreatif dengan keseluruhan penemuan diri atau aktualisasi diri
Kemungkinan terjadi bahwa klien mengalami “depersonalized” dalam interaksinya dengan konselor.
Keseluruhan proses mungkin tidak dapat digunakan bagi klien yang memiliki permasalahan yang tidak dapat dikaitkan dengan tingkah laku yang jelas.
Bagi klien yang berpotensi cukup tinggi dan sedang mencari arti dan tujuan hidup mereka, tidak dapat berharap banyak dari konseling behavioral.

9.
Contoh Penerapan











Tidak ada komentar:

Posting Komentar