Minggu, 19 April 2015

KOMPONEN KONSELING TRAIT AND FACTOR

KONSELING TRAIT AND FACTOR

NO.
KOMPONEN
URAIAN
1.
Latar Belakang Teori
Konseling dengan pendekatan Trait and Factor, digolongkan ke dalam kelompok pendekatan pada dimensi kognitif atau rational. Dalam proses penanganan kasus konseling menggunakan metode rational. Teori atau pendekatan ini secara intelektual, logis dan rasional menerangkan, memecahkan kesulitan-kesulitan klient dalam suatu proses konseling. Konseling dengan pendekatan Trait and Factor atau pendekatan rasional ini sering disebut konseling yang direktif (directive counseling), karena konselor secara aktif membantu klien mengarahkan perilakunya menuju pemecahan kesulitannya, sehingga konseling ini juga disebut konseling yang “counselor centered” dan ada juga yang menyebutnya sebagai “clinical counseling”.

Beberapa pendapat mengenai esensi konseling ini telah dikemukakan oleh para ahli dalam pendekatan ini yang kesemuanya itu sepenuhnya menggambarkan bahwa konseling ini benar-benar bersifat “directive”. Akan tetapi kemudian terdapat perubahan-perubahan pendapat diantara mereka. Pertanyaan-pertanyaan kemudian,seperti dari Williamson, Darley, nampak tidak lagi bersifat “directive” atau “counselor-centered”. (baca Rochman Natawidjaja,1978,halaman 73-74 atau pada Dugan,1958,halaman 3 dan Miller,1961,halaman 180). Penyuluh professional dimanapun mereka pernah mendapat pendidikan, cenderung menempatkan kliennya di pusat proses penyuluhan. Dalam penyuluhan itu tidaklah adil kiranya apabila aliran clinical counseling dianggap sebagai pendekatan yang “directive”, meskipun memang benar penyuluh-penyuluh dari aliran ini, sampai begitu jauh, mempertahankan adanya unsur-unsur pengendalian dalam penyelenggaraan wawancara dan oleh karena itu aliran ini “lebih directive” sifatnya dari pada aliran clien-centered counseling ( Rochman Natawidjaja, halaman 74).

2.
Konsep Dasar
Menurut teori TAF kepribadian merupakan sistem atau faktor yang salingberkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dantempramen.
Ada beberapa asumsi pokok yang mendasari teori konseling trait andfactor,

1.Karena setiap individu sebagai suatu pola kecakapan dan kemampuanyang terorganisasikan secara unik, dan karena kualitas yang relativestabil setelah remaja, maka tes objektif dapat digunakan untuk mengindentifikasi karakteristik tersebut.

2.Pola-pola kepribadian dan minat berkorelasi dengan perilaku kerjatertentu.

3.Kurikulum sekolah yang berbeda akan menuntut kapasitas dan minatyang berbeda dalam hal ini dapat ditentukan.

4.Baik siswa maupun konselor hendaknya mendiagnosa potensi siswauntuk mengawali penempatan dalam kurikulum atau pekerjaan.

5.Setiap orang memiliki kecakapan dan keinginan untuk mengindentifikasisecara kognitif kemampuan sendiri.
6.Manusia merupakan individu yang unik.
7.Manusia memiliki sifat-sifat yang umum.
8.Manusia bukan penerima pasif bawaan dan lingkungannya.

3.
Asumsi Perilaku Bermasalah
 Asumsi perilaku bermasalah / malasuai adalah individu yang tidak mampu memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sehingga individu tersebut tidak dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. (Gudnanto. 2012. FKIP UMK).
PRIBADI SEHAT menurut (Fauzan, Lutfi dan Suliono 1991 / 1992 Konseling Individu Trait and Factor DEPDIKBUD Malang) :
§  Mampu berfikir rasional untuk memecahkan masalah secara bijaksana
§  Memahami kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri
§  Mampu mengembangkan segala potensi secara penuh
§  Memiliki motivasi untuk meningkatkan/ menyempurnakan diri
§  Dapat menyesuaikan diri di masyarakat
PRIBADI MALASUAI menurut kategori Bordin (Fauzan, Lutfi.2004. 83):
§  Depcelence (ketergantungan)
§  Lach of information (kurang informasi)
§  Self conflict (konflik diri)
§  Chose anxicty (cemas memilih)
§  No Problem (bukan permasalah selain diatas)
Kategori Pepinsky
§  Lack of assurance (kurang percaya diri)
§  Lack of skill (kurang keterampilan)
§  Depcelence (ketergantungan)
§  Lach of information (kurang informasi)
§  Self conflict (konflik diri)
§  Chose anxicty (cemas memilih)

4.
Tujuan Konseling
-      Konseling Trait and Factor memiliki tujuan untuk mengajak siswa (konseling) untuk berfikir mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah yang dihadapinya. TF dimaksudkan agar siswa mengalami:
• Self-Clarification / Klarifikasi diri
• Self-Understanding / Pemahaman diri
• Self-Acceptance / Penerimaan diri
• Self-Direction / Pengarahan diri
• Sel-Actualization / Aktualisasi diri

5.
Peran Dan Fungsi Konselor
Peran konselor adalah memberitahukan, memberikan informasi, mengarahkan, oleh karena itu, pendekatan ini di sebut directive education conseling
PERAN KONSELOR
·      Sebagai guru
·      Sebagai motivator
·      Sebagai model
·      Sebagai evaluator
FUNGSI KONSELOR
·      Dapat menempatkan diri sebagai guru
·      Menerima sebagian tanggungjawab  terhadap masalah klien
·      Bersedia mengarahkan klien ke arah yang lebih baik
·      Dapat melaksanakan proses konseling secara fleksibel

6.
Proses Konseling
 Ada 6 (enam) tahap yang harus dilalui dalam konseling pendekatan trait and factor , yaitu :
1.    Analisis
Mengumpulkan data tentang diri siswa, dapat dilakukan dengan wawancara, catatan anekdot, catatan harian, otobiografi dan tes psikologi.
2.    Sintesis
Merangkum, menggolongkan, dan menghubungkan data yang dipeoleh sehingga memperoleh gambaran tentang kelemahan dan kelebihan siswa.
3.    Diagnosis
Menarik kesimpulan logis atas dasar gambaran pribadi siswa yang diperoleh dari hasil analisis dan sintesis. Dalam tahap ini terdapat tiga kegiatan yang dilakukan, yaitu :
• Identiffikasi masalah
Berdasar pada data yang diperoleh, dapat merumuskan dan menarik kesimpulan permasalahan klien.
• Etiologi (Merumuskan sumber-sumber penyebab masalah internal dan eksternal)
Dilakukan dengan cara mencari hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
4.    Prognosis
Upaya untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan data yang ada.
5.    Konseling (Treatment)
• Pengembangan alternatif masalah
Proses pemecahan masalah dengan menggunakan beberapa strategi
• Pengujian alternatif pemecahan masalah
Dilakukan untuk menentukan alternatif mana yang akan diimplementasikan, sehingga perlu diuji kelebihan dan kelemahan, keuntungan dan kerugian, serta faktor pendukung dan penghambat.
• Pengambilan keputusan
Keputusan diambil berdasarkan syarat, kegunaaan, dan fleksibilitas yang dipilih klien
6.    Follow Up
• Hal-hal yang perlu direncanakan dari alternatif pemecahan masalah yang dipilih.
• Tindak lanjut dari alternatif yang telah dilaksanakan di lapangan.


7.
Teknik Konseling
Teknik utama (major technique) yang digunakan dalam konseling “Trait and Factor”, adalah :
a)    Memperkuat persesuaian antara konselor dengan klien
b)    Mengubah lingkungan klien
c)    Memilih atau menempatkan pada lingkungan yang sesuai
d)    Mendorong klien belajar tentang ketrampilan –ketrampilan yang diperlukan.
e)    Mengubah sikap-sikap klien.

Ada beberapa teknik umum yang digunakan dalam pendekatan ini :
1.    Attending.
Attending adalah perilaku konselor untuk melibatkan diri dalam proses konseling meliputi : kontak mata, kualitas suara, jejak verbal, dan bahasa tubuh.
Tujuan menggunakan teknik ini adalah :
a.    Menunjukkan pada konseli bahwa proses konseling konselor memperhatikan sepenuhnya kepada konseli.
b.    Mengkomunikasikan penerimaan konselor terhadap konseli.
c.    Mengajak dan mengembangkan keterlibatan konseli secara personal dalam melaksanakan sesi konseling.
d.    Menangkap secara utuh pesan dan ungkapan yang diberikan konseling baik dalam bentuk verbal maupun non verbal.
2.     Opening.
Opening adalah membuka kegiatan wawancara
Tujuan Pembukaan wawancara konseling untuk :
a.    Menciptakan rasa aman konseling selama mengikuti sesi konseling.
b.    Mengurangi kecemasan dalam proses konseling.
c.    Menciptakan kondisi fasilitas dalam konseling.
3.     Acceptence
Acceptence adalah penerimaan terhadap klien.
Tujuan teknik penerimaan untuk :
a.     Mengkomunikasikan sikap dasar konselor terutama ketika membentuk suasana akrab.
b.    Disadarinya oleh konseling bahwa konselor benar-benar mendengarkan apa yang dikatakannya.
c.    Terbentuknya suasana emosional klien.
4.    Restatement dan Pharaprasing.
Restatement adalah mengulang atau menyatakan kembali sebagian pernyataan konseling yang dianggap penting.
Pharaprase adalah mengulang kalimat/ pernyataan singkat konseli secara utuh, apa adanya tanpa merubah makna.
Tujuan :
a.    Diketahui oleh klien , bahwa konselor mendengarkan yang dikatakannya.
b.    Diperolehnya informasi penting.
c.    Terujinya data yang diverbalissasikan klien.
5.    Reflection of Feeling
Reflection of Feeling adalah pantualan perasaan yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan / sikap yang terkandung di balik pernyataan klien.
Tujuan :
a.    Dirasakannya oleh klien bahwa dirinya dipahami oleh konselor.
b.    Terdorongnya konseli lebih mengekprsikan perasaan-perasaannya terhadap situasi tertentu.
6.    Clarification.
Clarification adalah mengungkapkan kembali isi pernyataan klien dengan menggunakan kata-kata baru dan segar.
Tujuannya :
a.    Mengungkap isi pesan utama yang disampaiakn klien.
b.    Memperjelas isi pesan yang diungkapkan klien.
7.    Structuring
Struckturing adalah penegasan tentang batas-batas konseling itu sesungghnya.
Tujuannya :
a.    Diperolehnya kesamaan harapan konselor dan klien.
b.    Diperolehnya kesepakatan dari konseling mengenai apa terlibat dalam metode dan tujuan konseling.
8.    Summary
Meringkas adalah suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu unit wawancara konseling.
Tujuannya :
a.    Memadukan unsur-unsur tema yang muncul dalam pembicaraan.
b.    Mengidentifikasi pola isi pembicaraan konseli.
c.    Menghindari pembicara yang diulang-ulang dan bertele-tele.
d.    Merangkum kemajuan yang telah dicapai dalam proses konseling.

8.
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
Kelebihan Trait and Factor adalah
Pemusatan pada klien dan bukan pada konselor
Identifikasi dan hubungan konseli sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian
Lebih menekankan pada sikap konselor daripada teknik
Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuanitatif
Penekanan emosi, perasaan dan afektif dalam konseling
Bersifat rasional, logis dan intelektual
Dalam keseluruhan tahap pemecahan masalah menggunakan langkah pemecahan secara alamiah
Lebih condong pada penggunaan prosedur yang objektif dan menitik beratkan pada program observasi eksternal.
Kekurangan Trait and Factor adalah
Konseling terpusat pada pribadi dan dianggap sederhana
Terlalu menekankan aspek afektif emosional, perasaan sebagai penentu perilaku tetapi melupakan factor intelektual, kognitif dan rasional
Penggunaan informasi untuk membantu klien tidak sesuai dengan teori
Tujuan untuk sikap klien yaitu memaksimalkan diri dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit menilai individu
Sulit bagi konselor untuk bersikap netral dalam situasi hubungan interpersonal.
Kurang netral terhadap nilai – nilai
 Memaksakan keinginan atas klien yang tidak memiliki daya
Memberikan porsi yang terlalu berlebihan pada konselor dalam mengadakan konsekwensi
Konselor lebih berperan aktif daripada klien

9.
Contoh Penerapan













Tidak ada komentar:

Posting Komentar