KONSELING TRAIT AND FACTOR
|
NO.
|
KOMPONEN
|
URAIAN
|
|
1.
|
Latar Belakang Teori
|
Konseling
dengan pendekatan Trait and Factor, digolongkan ke dalam kelompok pendekatan
pada dimensi kognitif atau rational. Dalam proses penanganan kasus konseling
menggunakan metode rational. Teori atau pendekatan ini secara intelektual,
logis dan rasional menerangkan, memecahkan kesulitan-kesulitan klient dalam
suatu proses konseling. Konseling dengan pendekatan Trait and Factor atau
pendekatan rasional ini sering disebut konseling yang direktif (directive
counseling), karena konselor secara aktif membantu klien mengarahkan
perilakunya menuju pemecahan kesulitannya, sehingga konseling ini juga
disebut konseling yang “counselor centered” dan ada juga yang menyebutnya
sebagai “clinical counseling”.
Beberapa
pendapat mengenai esensi konseling ini telah dikemukakan oleh para ahli dalam
pendekatan ini yang kesemuanya itu sepenuhnya menggambarkan bahwa konseling
ini benar-benar bersifat “directive”. Akan tetapi kemudian terdapat
perubahan-perubahan pendapat diantara mereka. Pertanyaan-pertanyaan
kemudian,seperti dari Williamson, Darley, nampak tidak lagi bersifat
“directive” atau “counselor-centered”. (baca Rochman Natawidjaja,1978,halaman
73-74 atau pada Dugan,1958,halaman 3 dan Miller,1961,halaman 180). Penyuluh
professional dimanapun mereka pernah mendapat pendidikan, cenderung
menempatkan kliennya di pusat proses penyuluhan. Dalam penyuluhan itu
tidaklah adil kiranya apabila aliran clinical counseling dianggap sebagai
pendekatan yang “directive”, meskipun memang benar penyuluh-penyuluh dari
aliran ini, sampai begitu jauh, mempertahankan adanya unsur-unsur
pengendalian dalam penyelenggaraan wawancara dan oleh karena itu aliran ini
“lebih directive” sifatnya dari pada aliran clien-centered counseling (
Rochman Natawidjaja, halaman 74).
|
|
2.
|
Konsep Dasar
|
Menurut
teori TAF kepribadian merupakan sistem atau faktor yang salingberkaitan satu
dengan yang lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dantempramen.
Ada
beberapa asumsi pokok yang mendasari teori konseling trait andfactor,
1.Karena
setiap individu sebagai suatu pola kecakapan dan kemampuanyang
terorganisasikan secara unik, dan karena kualitas yang relativestabil setelah
remaja, maka tes objektif dapat digunakan untuk mengindentifikasi karakteristik
tersebut.
2.Pola-pola
kepribadian dan minat berkorelasi dengan perilaku kerjatertentu.
3.Kurikulum
sekolah yang berbeda akan menuntut kapasitas dan minatyang berbeda dalam hal
ini dapat ditentukan.
4.Baik
siswa maupun konselor hendaknya mendiagnosa potensi siswauntuk mengawali
penempatan dalam kurikulum atau pekerjaan.
5.Setiap
orang memiliki kecakapan dan keinginan untuk mengindentifikasisecara kognitif
kemampuan sendiri.
6.Manusia
merupakan individu yang unik.
7.Manusia
memiliki sifat-sifat yang umum.
8.Manusia
bukan penerima pasif bawaan dan lingkungannya.
|
|
3.
|
Asumsi Perilaku Bermasalah
|
Asumsi perilaku bermasalah / malasuai adalah
individu yang tidak mampu memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada
dirinya sehingga individu tersebut tidak dapat mengaktualisasikan dirinya
secara optimal. (Gudnanto. 2012. FKIP UMK).
PRIBADI SEHAT menurut
(Fauzan, Lutfi dan Suliono 1991 / 1992 Konseling Individu Trait and Factor
DEPDIKBUD Malang) :
§ Mampu
berfikir rasional untuk memecahkan masalah secara bijaksana
§ Memahami
kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri
§ Mampu
mengembangkan segala potensi secara penuh
§ Memiliki
motivasi untuk meningkatkan/ menyempurnakan diri
§ Dapat
menyesuaikan diri di masyarakat
PRIBADI MALASUAI
menurut kategori Bordin (Fauzan, Lutfi.2004.
83):
§ Depcelence
(ketergantungan)
§ Lach
of information (kurang informasi)
§ Self
conflict (konflik diri)
§ Chose
anxicty (cemas memilih)
§ No
Problem (bukan permasalah selain diatas)
Kategori Pepinsky
§ Lack
of assurance (kurang percaya diri)
§ Lack
of skill (kurang keterampilan)
§ Depcelence
(ketergantungan)
§ Lach
of information (kurang informasi)
§ Self
conflict (konflik diri)
§ Chose
anxicty (cemas memilih)
|
|
4.
|
Tujuan Konseling
|
- Konseling
Trait and Factor memiliki tujuan untuk mengajak siswa (konseling) untuk
berfikir mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara yang dilakukan
agar dapat keluar dari masalah yang dihadapinya. TF dimaksudkan agar siswa
mengalami:
•
Self-Clarification / Klarifikasi diri
•
Self-Understanding / Pemahaman diri
•
Self-Acceptance / Penerimaan diri
•
Self-Direction / Pengarahan diri
•
Sel-Actualization / Aktualisasi diri
|
|
5.
|
Peran Dan Fungsi Konselor
|
Peran
konselor adalah memberitahukan, memberikan informasi, mengarahkan, oleh
karena itu, pendekatan ini di sebut directive education conseling
PERAN
KONSELOR
· Sebagai
guru
· Sebagai
motivator
· Sebagai
model
· Sebagai
evaluator
FUNGSI
KONSELOR
· Dapat
menempatkan diri sebagai guru
· Menerima
sebagian tanggungjawab terhadap masalah klien
· Bersedia
mengarahkan klien ke arah yang lebih baik
· Dapat
melaksanakan proses konseling secara fleksibel
|
|
6.
|
Proses Konseling
|
Ada 6 (enam) tahap yang harus dilalui dalam konseling
pendekatan trait and factor , yaitu :
1. Analisis
Mengumpulkan data tentang diri siswa, dapat dilakukan dengan wawancara, catatan anekdot, catatan harian, otobiografi dan tes psikologi.
2. Sintesis
Merangkum, menggolongkan, dan menghubungkan data yang dipeoleh sehingga memperoleh gambaran tentang kelemahan dan kelebihan siswa.
3. Diagnosis
Menarik kesimpulan logis atas dasar gambaran pribadi siswa yang diperoleh dari hasil analisis dan sintesis. Dalam tahap ini terdapat tiga kegiatan yang dilakukan, yaitu : • Identiffikasi masalah Berdasar pada data yang diperoleh, dapat merumuskan dan menarik kesimpulan permasalahan klien. • Etiologi (Merumuskan sumber-sumber penyebab masalah internal dan eksternal) Dilakukan dengan cara mencari hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
4. Prognosis
Upaya untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan data yang ada.
5. Konseling (Treatment)
• Pengembangan alternatif masalah Proses pemecahan masalah dengan menggunakan beberapa strategi • Pengujian alternatif pemecahan masalah Dilakukan untuk menentukan alternatif mana yang akan diimplementasikan, sehingga perlu diuji kelebihan dan kelemahan, keuntungan dan kerugian, serta faktor pendukung dan penghambat. • Pengambilan keputusan Keputusan diambil berdasarkan syarat, kegunaaan, dan fleksibilitas yang dipilih klien
6. Follow Up
• Hal-hal yang perlu direncanakan dari alternatif pemecahan masalah yang dipilih. • Tindak lanjut dari alternatif yang telah dilaksanakan di lapangan. |
|
7.
|
Teknik Konseling
|
Teknik utama (major
technique) yang digunakan dalam konseling “Trait and Factor”, adalah :
a) Memperkuat persesuaian antara konselor dengan klien
b) Mengubah lingkungan klien
c) Memilih atau menempatkan pada lingkungan yang sesuai
d) Mendorong klien belajar tentang ketrampilan –ketrampilan yang
diperlukan.
e) Mengubah sikap-sikap klien.
Ada beberapa teknik
umum yang digunakan dalam pendekatan ini :
1. Attending.
Attending adalah
perilaku konselor untuk melibatkan diri dalam proses konseling meliputi :
kontak mata, kualitas suara, jejak verbal, dan bahasa tubuh.
Tujuan menggunakan
teknik ini adalah :
a. Menunjukkan pada konseli bahwa proses konseling konselor
memperhatikan sepenuhnya kepada konseli.
b. Mengkomunikasikan penerimaan konselor terhadap konseli.
c. Mengajak dan mengembangkan keterlibatan konseli secara
personal dalam melaksanakan sesi konseling.
d. Menangkap secara utuh pesan dan ungkapan yang diberikan
konseling baik dalam bentuk verbal maupun non verbal.
2. Opening.
Opening adalah
membuka kegiatan wawancara
Tujuan Pembukaan
wawancara konseling untuk :
a. Menciptakan rasa aman konseling selama mengikuti sesi
konseling.
b. Mengurangi kecemasan dalam proses konseling.
c. Menciptakan kondisi fasilitas dalam konseling.
3. Acceptence
Acceptence adalah
penerimaan terhadap klien.
Tujuan teknik
penerimaan untuk :
a. Mengkomunikasikan sikap dasar konselor terutama ketika
membentuk suasana akrab.
b. Disadarinya oleh konseling bahwa konselor benar-benar
mendengarkan apa yang dikatakannya.
c. Terbentuknya suasana emosional klien.
4. Restatement dan Pharaprasing.
Restatement adalah
mengulang atau menyatakan kembali sebagian pernyataan konseling yang dianggap
penting.
Pharaprase adalah
mengulang kalimat/ pernyataan singkat konseli secara utuh, apa adanya tanpa
merubah makna.
Tujuan :
a. Diketahui oleh klien , bahwa konselor mendengarkan yang
dikatakannya.
b. Diperolehnya informasi penting.
c. Terujinya data yang diverbalissasikan klien.
5. Reflection of Feeling
Reflection of
Feeling adalah pantualan perasaan yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan /
sikap yang terkandung di balik pernyataan klien.
Tujuan :
a. Dirasakannya oleh klien bahwa dirinya dipahami oleh konselor.
b. Terdorongnya konseli lebih mengekprsikan perasaan-perasaannya
terhadap situasi tertentu.
6. Clarification.
Clarification adalah
mengungkapkan kembali isi pernyataan klien dengan menggunakan kata-kata baru
dan segar.
Tujuannya :
a. Mengungkap isi pesan utama yang disampaiakn klien.
b. Memperjelas isi pesan yang diungkapkan klien.
7. Structuring
Struckturing adalah
penegasan tentang batas-batas konseling itu sesungghnya.
Tujuannya :
a. Diperolehnya kesamaan harapan konselor dan klien.
b. Diperolehnya kesepakatan dari konseling mengenai apa terlibat
dalam metode dan tujuan konseling.
8. Summary
Meringkas adalah suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan
dalam satu pernyataan pada akhir suatu unit wawancara konseling.
Tujuannya :
a. Memadukan unsur-unsur tema yang muncul dalam pembicaraan.
b. Mengidentifikasi pola isi pembicaraan konseli.
c. Menghindari pembicara yang diulang-ulang dan bertele-tele.
d. Merangkum kemajuan yang telah dicapai dalam proses konseling.
|
|
8.
|
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
|
Kelebihan
Trait and Factor adalah
Pemusatan
pada klien dan bukan pada konselor
Identifikasi
dan hubungan konseli sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian
Lebih
menekankan pada sikap konselor daripada teknik
Memberikan
kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuanitatif
Penekanan
emosi, perasaan dan afektif dalam konseling
Bersifat
rasional, logis dan intelektual
Dalam
keseluruhan tahap pemecahan masalah menggunakan langkah pemecahan secara
alamiah
Lebih
condong pada penggunaan prosedur yang objektif dan menitik beratkan pada
program observasi eksternal.
Kekurangan
Trait and Factor adalah
Konseling
terpusat pada pribadi dan dianggap sederhana
Terlalu
menekankan aspek afektif emosional, perasaan sebagai penentu perilaku tetapi
melupakan factor intelektual, kognitif dan rasional
Penggunaan
informasi untuk membantu klien tidak sesuai dengan teori
Tujuan
untuk sikap klien yaitu memaksimalkan diri dirasa terlalu luas dan umum
sehingga sulit menilai individu
Sulit
bagi konselor untuk bersikap netral dalam situasi hubungan interpersonal.
Kurang
netral terhadap nilai – nilai
Memaksakan
keinginan atas klien yang tidak memiliki daya
Memberikan
porsi yang terlalu berlebihan pada konselor dalam mengadakan konsekwensi
Konselor
lebih berperan aktif daripada klien
|
|
9.
|
Contoh Penerapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar