KONSELING REBT
|
NO.
|
KOMPONEN
|
URAIAN
|
|
1.
|
Latar Belakang Teori
|
Manusia
tidak ditakdirkan untuk menjadi korban pengkondisian awal. REBT menegaskan
sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan
bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya,menuru REBT
manusia dilahirkan dengan kecendrungan untuk mendesakka pemenuhan
keinginan-keingian hidupnya;jika tidak segera mencapai apa yang inginn
dicapainya,diinginkannya manusia mempersalahkan dirinya ataupun oraang
lain(Ellis, 1973,a, h. 175-176).
|
|
2.
|
Konsep Dasar
|
Menurut
Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan
untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku
rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan
bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional
seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi
yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional
tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional,
yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan
prasangka, sangat personal, dan irasional.
Berpikir
irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya
diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara
irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak
logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat
menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta
penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis,
yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi
yang rasional.
REBT
lebih banyak kesamaannya dengan terapi-terapi yang berorientasi pada
kognitif-tingkah laku-tindakan dalam arti ia menitikbertkan
berfikir,menilai,memutuskan,menganalisis,dan bertindak.REBT sangat didaktik
dan direktif serta lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi pikiran
ketimbang dengan dimensi-dimensi perasaan.
|
|
3.
|
Asumsi Perilaku Bermasalah
|
Rumusan pribadi sehat
menurut REBT adalah jika individu mampu menggunakan kemampuan berfikir
rasionalnya untuk memecahkan dan menghadapi satu masalah. Ia juga mampu
menerima segala kelebihan dan keterbatasan dirinya, mengaktualisasikan
dirinya, percaya diri, dan tidak bergantung kepada orang lain serta dapat
menyesuaikan diri di lingkungannya dengan baik. Dan sebaliknya untuk pribadi
bermasalah.
|
|
4.
|
Tujuan Konseling
|
- Dalam kontek teori
kepribadian, tujuan konseling merupakan efek (E) yang diharapkan terjadi
setelah dilakukan intervensi oleh konselor (desputing/D). oleh karena itu
teori TRE tentang kepribadian dalam formula A-BC dilengkapi pleh Ellis
sebagai teori konseling menjadi A-B-C-D-E(antecedent event, belief, emotional
consequence, desputing, dan effect). Efek yang dimaksud adalah keadaan
psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses
konseling.
|
|
5.
|
Peran Dan Fungsi Konselor
|
Aktivitas-aktivitas
terapeutik utama TRE dilaksanakan dengan maksud utama yaitu membantu klien
untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan
untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya sasarannya
adalah menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional
sebagaimana dia menginternalisasi keyainan-keyakinan dokmatis yang irasional
dan takhayul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya.
Konselor
Rasional Emotif Behaviour terapi diharapkan dapat memberikan penghargaan
positif tanpa syarat kepada klien atau yang disebutnya unconditional
self-acceptance yaitu penerimaan diri tanpa syarat bukan dengan syarat
(conditioning regard). Menurut Rasional Emotif Behaviour Terapi peranan
konselor adalah :
1. Konselor
lebih edukatif-direktif kepada klien yaitu dengan banyak memberikan cerita
dan penjelasan khususnya pada tahap awal.
2. Mengkonfrontasikan
masalah klien secara langsung.
3. Menggunakan
Pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki masalah klien,
kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri.
4. Dengan
gigih dan berulang-ulang dalam menekankan bahwa ide irrasional yang
menyebabkan hambatan emosional pada klien.
5. Menyerukan
klien menggunakan kemampuan rasional (rasional power) dari pada emosinya.
6. Menggunakan
pendekatan didaktik dan filosofis
7. Menggunakan
humor sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional
|
|
6.
|
Proses Konseling
|
Tahap-tahap Konseling
a. Tahap pembinaan hubungan/ Relation Building Hubungan baik-good rapport antara konselor dan konseli memang merupakan suatu prasyarat dalam konseling. Untuk dapat menciptakan hubungan baik, konselor perlu: menerapkan sikap dasar, menciptakan suasana pendukung, membuka sesi pertama atau perbincangan awal. b. Tahap Kognitif / pengelolaan pemikiran dan pandangan Tahap ini secara konsekuensial peran konselor adalah: 1. mengidentifikasi, menerangkan, dan menunjukkan masalah (A-B-C) yang dihadapi konseli dengan keyakinan irasionalnya, 2. Mengajar dan memberikan informasi (tentang teori A-B-C), 3. Mendiskusikan masalah (menunjukkan arah perubahan, dari Bir ke Br yang hendak dicapai dalam konseling), 4. Menerapkan berbagai teknik debate dan dispute. c. Tahap pengelolaan emotif dan afektif Konselor memusatkan perhatiannya pada “menggarap emosi atau afeksi” konseli sebagai kondisi pendukung kemantapan perubahan Bir ke Br. Dalam tahap ini konselor adalah: 1. Meminta kesepakatan penuh kepada konseli atas arah perubahan dan “perubahan-perubahan kecil” yang telah terjadi pada konseli., 2. Memelihara suasana konseling bisa dengan teknik humor, 3. Melaksanakan teknik-teknik relaksasi. d. Tahap pengelolaan tingkah laku / Behavior Jika konseli telah memberikan isyarat bahwa ia: 1. Sepakat atas arah perubahan, 2. Ada pernyataan telah terjadi sejumlah perubahan kognitif maupun afektif sekalipun kecil. 3. Sikap emosional dihadapkan pada perubahan perilaku, maka konselor siap masuk pada tahap pengelolaan perilaku tampak konseli. Pada tahap ini konselor: 1. Menganjurkan klien untuk berbuat dan memberikan masukan, 2. menunjukkan contoh perilaku cocok, pantas, atau teknik modeling, serta mengajak konseli mengikuti contoh, 3. Mengajak konseli dalam latihan-latihan keasertifan, 4. Mengajak dan “menuntun” konseli dalam merumuskan kalimat-kalimat rasional. Kegiatan-kegiatan dalam tahap keempat ini merupakan kegiatan aplikasi teknik yang dapat dipilih oleh konselor bersama konseli sesuai kekhasan masalah konseli |
|
7.
|
Teknik Konseling
|
1. Teori A-B-C tentang
kepribadian
Teori
A-B-C tentang kepribadian sangatlah penting bagi teori dan praktik REBT. A
adalah keberadaan suatu fakta, suatu peistiwa, tingkah laku atau sikap
sesorang. C adalah konsekuensi atau reaksi emosional seseorang; reaksi ini
bisa layak dan bisa pula tidak layak . A ( Peristiwa yang mengaktifkan ) buka
penyebab timbulnya C ( Konsekensi emosional ). alih-alih, B yaitu keyakinan
individu tentang A, yang menjadi penyebab C, yakni reaksi emosional.
misalnya, jika sesorang memahami depresi sesudah perceraian, bukan perceraian
itu sendiri yang menjadi penyebab timbulnya reaksi depresif, melainkan
keyakinan orang itu tentang perceraian sebagai kegagalan, penolakan atau
kehilangan teman hidup, Ellis bertahan bahkan keyakinan akan penolakkan dan
kegagalan ( Pada B ) adalah yang menyebabkan depresi ( Pada C ), jadi, bukan
peristiwa perceraian yang sebenarnya ( pada A ). jadi manusia bertanggung
jawab atas penciptaan reaksi-reaksi emosional dan gangguan-gangguannya
sendiri.
2. Teori
Kepribadian A-B-C-D-E
Salah
satu teori utama mengenai kepribadian yang dikemukakan oleh Albert Ellis dan
para penganut Rational Emotive Therapy adalah apa yang disebut Teori
A-B-C-D-E. teori ini merupakan central dari teori dan praktik REBT.
|
|
8.
|
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
|
1. Kelemahan
a. Penggunaan efektif terhadap intervensi terapi perilaku kognitif memerlukan studi ekstensif, pelatihan, dan praktek b. Eksplorasi masa lalu tidak efektif dalam membantu klien mengubah pemikiran yang salah dan perilaku c. Karena sifat aktif dan direktif dari pendekatan ini, terkadang terdapat penyalahgunaan kekuasaan terapis dengan memaksakan ide-ide tentang apa yang merupakan pemikiran rasional d. REBT adalah terapi yang kuat dan konfrontatif, terkadang klien akan mengalami kesulitan dengan gaya konfrontatif tersebut 2. Kelebihan a. Kerangka A-B-C sederhana dan jelas menggambarkan bagaimana terjadinya gangguan pada manusia dan cara-cara di mana perilaku bermasalah dapat diubah b. Menempatkan penekanan pada wawasan/insight baru diperoleh ke dalam tindakan c. Fokus pada pengajaran cara klien untuk melanjutkan terapi mereka sendiri tanpa intervensi langsung dari terapis d. Penekanannya pada praktik terapi yang komprehensif dan integratif e. Teknik kognitif, emotif, dan perilaku Banyak dapat digunakan dalam perubahan emosi dan perilaku seseorang dengan mengubah struktur kognisi seseorang. |
|
9.
|
Contoh Penerapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar