Minggu, 19 April 2015

KOMPONEN KONSELING REBT

KONSELING REBT

NO.
KOMPONEN
URAIAN
1.
Latar Belakang Teori
Manusia tidak ditakdirkan untuk menjadi korban pengkondisian awal. REBT menegaskan sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya,menuru REBT manusia dilahirkan dengan kecendrungan untuk mendesakka pemenuhan keinginan-keingian hidupnya;jika tidak segera mencapai apa yang inginn dicapainya,diinginkannya manusia mempersalahkan dirinya ataupun oraang lain(Ellis, 1973,a, h. 175-176).
2.
Konsep Dasar
Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
REBT lebih banyak kesamaannya dengan terapi-terapi yang berorientasi pada kognitif-tingkah laku-tindakan dalam arti ia menitikbertkan berfikir,menilai,memutuskan,menganalisis,dan bertindak.REBT sangat didaktik dan direktif serta lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi pikiran ketimbang dengan dimensi-dimensi perasaan.

3.
Asumsi Perilaku Bermasalah
 Rumusan pribadi sehat menurut REBT adalah jika individu mampu menggunakan kemampuan berfikir rasionalnya untuk memecahkan dan menghadapi satu masalah. Ia juga mampu menerima segala kelebihan dan keterbatasan dirinya, mengaktualisasikan dirinya, percaya diri, dan tidak bergantung kepada orang lain serta dapat menyesuaikan diri di lingkungannya dengan baik. Dan sebaliknya untuk pribadi bermasalah.
4.
Tujuan Konseling
-      Dalam kontek teori kepribadian, tujuan konseling merupakan efek (E) yang diharapkan terjadi setelah dilakukan intervensi oleh konselor (desputing/D). oleh karena itu teori TRE tentang kepribadian dalam formula A-BC dilengkapi pleh Ellis sebagai teori konseling menjadi A-B-C-D-E(antecedent event, belief, emotional consequence, desputing, dan effect). Efek yang dimaksud adalah keadaan psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling.
5.
Peran Dan Fungsi Konselor
Aktivitas-aktivitas terapeutik utama TRE dilaksanakan dengan maksud utama yaitu membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan  yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasi keyainan-keyakinan dokmatis yang irasional dan takhayul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya.
Konselor Rasional Emotif Behaviour terapi diharapkan dapat memberikan penghargaan positif tanpa syarat kepada klien atau yang disebutnya unconditional self-acceptance yaitu penerimaan diri tanpa syarat bukan dengan syarat (conditioning regard). Menurut Rasional Emotif Behaviour Terapi peranan konselor adalah :
1.      Konselor lebih edukatif-direktif kepada klien yaitu dengan banyak memberikan cerita dan penjelasan khususnya pada tahap awal.
2.      Mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung.
3.      Menggunakan Pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki masalah klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri.
4.      Dengan gigih dan berulang-ulang dalam menekankan bahwa ide irrasional yang menyebabkan hambatan emosional pada klien.
5.      Menyerukan klien menggunakan kemampuan rasional (rasional power) dari pada emosinya.
6.      Menggunakan pendekatan didaktik dan filosofis
7.      Menggunakan humor sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional

6.
Proses Konseling
 Tahap-tahap Konseling
a. Tahap pembinaan hubungan/ Relation Building
Hubungan baik-good rapport antara konselor dan konseli memang merupakan suatu prasyarat dalam konseling. Untuk dapat menciptakan hubungan baik, konselor perlu: menerapkan sikap dasar, menciptakan suasana pendukung, membuka sesi pertama atau perbincangan awal.
b. Tahap Kognitif / pengelolaan pemikiran dan pandangan
Tahap ini secara konsekuensial peran konselor adalah: 1. mengidentifikasi, menerangkan, dan menunjukkan masalah (A-B-C) yang dihadapi konseli dengan keyakinan irasionalnya, 2. Mengajar dan memberikan informasi (tentang teori A-B-C), 3. Mendiskusikan masalah (menunjukkan arah perubahan, dari Bir ke Br yang hendak dicapai dalam konseling), 4. Menerapkan berbagai teknik debate dan dispute.
c. Tahap pengelolaan emotif dan afektif
Konselor memusatkan perhatiannya pada “menggarap emosi atau afeksi” konseli sebagai kondisi pendukung kemantapan perubahan Bir ke Br. Dalam tahap ini konselor adalah: 1. Meminta kesepakatan penuh kepada konseli atas arah perubahan dan “perubahan-perubahan kecil” yang telah terjadi pada konseli., 2. Memelihara suasana konseling bisa dengan teknik humor, 3. Melaksanakan teknik-teknik relaksasi.
d. Tahap pengelolaan tingkah laku / Behavior
Jika konseli telah memberikan isyarat bahwa ia: 1. Sepakat atas arah perubahan, 2. Ada pernyataan telah terjadi sejumlah perubahan kognitif maupun afektif sekalipun kecil. 3. Sikap emosional dihadapkan pada perubahan perilaku, maka konselor siap masuk pada tahap pengelolaan perilaku tampak konseli.
Pada tahap ini konselor: 1. Menganjurkan klien untuk berbuat dan memberikan masukan, 2. menunjukkan contoh perilaku cocok, pantas, atau teknik modeling, serta mengajak konseli mengikuti contoh, 3. Mengajak konseli dalam latihan-latihan keasertifan, 4. Mengajak dan “menuntun” konseli dalam merumuskan kalimat-kalimat rasional.
Kegiatan-kegiatan dalam tahap keempat ini merupakan kegiatan aplikasi teknik yang dapat dipilih oleh konselor bersama konseli sesuai kekhasan masalah konseli
7.
Teknik Konseling
1.      Teori A-B-C tentang kepribadian
Teori A-B-C tentang kepribadian sangatlah penting bagi teori dan praktik REBT. A adalah keberadaan suatu fakta, suatu peistiwa, tingkah laku atau sikap sesorang. C adalah konsekuensi atau reaksi emosional seseorang; reaksi ini bisa layak dan bisa pula tidak layak . A ( Peristiwa yang mengaktifkan ) buka penyebab timbulnya C ( Konsekensi emosional ). alih-alih, B yaitu keyakinan individu tentang A, yang menjadi penyebab C, yakni reaksi emosional. misalnya, jika sesorang memahami depresi sesudah perceraian, bukan perceraian itu sendiri yang menjadi penyebab timbulnya reaksi depresif, melainkan keyakinan orang itu tentang perceraian sebagai kegagalan, penolakan atau kehilangan teman hidup, Ellis bertahan bahkan keyakinan akan penolakkan dan kegagalan ( Pada B ) adalah yang menyebabkan depresi ( Pada C ), jadi, bukan peristiwa perceraian yang sebenarnya ( pada A ). jadi manusia bertanggung jawab atas penciptaan reaksi-reaksi emosional dan gangguan-gangguannya sendiri.

2.      Teori Kepribadian A-B-C-D-E
Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang dikemukakan oleh Albert Ellis dan para penganut Rational Emotive Therapy adalah apa yang disebut Teori A-B-C-D-E. teori ini merupakan central dari teori dan praktik REBT.

8.
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
1. Kelemahan
a. Penggunaan efektif terhadap intervensi terapi perilaku kognitif memerlukan studi ekstensif, pelatihan, dan praktek
b. Eksplorasi masa lalu tidak efektif dalam membantu klien mengubah pemikiran yang salah dan perilaku
c. Karena sifat aktif dan direktif dari pendekatan ini, terkadang terdapat penyalahgunaan kekuasaan terapis dengan memaksakan ide-ide tentang apa yang merupakan pemikiran rasional
d. REBT adalah terapi yang kuat dan konfrontatif, terkadang klien akan mengalami kesulitan dengan gaya konfrontatif tersebut
2. Kelebihan
a. Kerangka A-B-C sederhana dan jelas menggambarkan bagaimana terjadinya gangguan pada manusia dan cara-cara di mana perilaku bermasalah dapat diubah
b. Menempatkan penekanan pada wawasan/insight baru diperoleh ke dalam tindakan
c. Fokus pada pengajaran cara klien untuk melanjutkan terapi mereka sendiri tanpa intervensi langsung dari terapis
d. Penekanannya pada praktik terapi yang komprehensif dan integratif
e. Teknik kognitif, emotif, dan perilaku Banyak dapat digunakan dalam perubahan emosi dan perilaku seseorang dengan mengubah struktur kognisi seseorang.
9.
Contoh Penerapan










Tidak ada komentar:

Posting Komentar