KONSELING PSIKONALISA
|
NO.
|
KOMPONEN
|
URAIAN
|
|
1.
|
Latar Belakang Teori
|
1. Manusia pada dasarnya deterministik : ditentukan
oleh energi psikis dan pengalaman dini. Masalah kepribadian berakar pada konflik
masa kanak-kanak yang depresi.
2. Manusia bersifat Irasional : motif dan konflik
tak sadar adalah sentral perilaku manusia.
3. Manusia memiliki
kecenderungan mengembangkan diri
melalui libido dan agresivitas yang dibawa sejak lahir.
4. Dalam diri manusia terdapat dorongan Memuaskan
diri Vs Merusak diri, dorongan mati Vs Dorongan hidup.
5. Perilaku manusia
bertujuan dan mengarah untuk merendahkan ketegangan, menolak kesakitan dan
mencari kenikmatan.
6. Kegagalan dalam pemenuhan
seksual mengarah pada perilaku neorosis.
7. Pembentukan simtom
merupakan bentuk defensif.
Manusia
dengan kepribadian sehat :
·
Orang yang bergerak menurut pola perkembangan yang
ilmiah.
·
Dapat mengatasi kecemasan dan tekanan yang ada dalam
hidupnya.
·
Kinerja yang seimbang antara id, ego dan super ego.
Manusia
dengan kepribadian tidak sehat :
Jika terdapat dinamika
yang tidak efektif antara Id, Ego dan Superego, dimungkinkan Ego selalu
mengikuti dorongan-dorongannya dan mengabaikan tuntutan moral atau Ego selalu
mempertahankan kata hatinya tanpa menyalurkan keinginan atau kebutuhan dan
juga proses belajar yang tidak benar pada masakanak-kanak.
|
|
2.
|
Konsep Dasar
|
1. Tokoh utama psikoanalisa,
Sigmund Freud (1896) mengembangkan teori tentang struktur kepribadian
dan sebab-sebab gangguan jiwa. Psikoanalisa terkait dengan
tradisi Jerman yang menyatakan bahwa pikiran adalah entitas yang aktif,
dinamis dan bergerak dengan sendirinya.
2. Kepribadian individu
mulai terbentuk pada lima tahun petama kehidupannya. Masa kanak-kanak
adalah cikal bakal manusia, dan gangguan psikis pada orang-orang dewasa
pada umumnya bercikal bakal dari pengalaman masa kanak-kanak.
3. Keperibadian manusia
menurut psikoanalisis terdiri dari alam sadar, alam prasadar, dan alam bawah
sadar. Sedangkan struktur Kepribadian
terdiri dari Id, Ego, dan Superego.
4. Periode
Perkembangan Psikoseksual yaitu tahun pertama kehidupan (Fase oral); Usia dua
tahun-tiga tahun (fase anal); Usia empat-lima tahun (fase falik).
|
|
3.
|
Asumsi Perilaku Bermasalah
|
|
|
4.
|
Tujuan Konseling
|
- Tujuan umum
1. Membantu konseli agar
mampu mengoptimalkan fungsi ego sehingga kecemasan atau konflik
intrapsikis mampu ditangani secara realistis dan tidak banyak tuntutan
nafsu.
2. Membentuk kembali
struktur karakter individu, dengan cara merekonstruksi, membahas,
menganalisa,dan menafsirkan kembali pengalaman masa lampau, yang terjadi
di masa kanak-kanak.
Tujuan khusus
1.
Meningkatkan kesadaran dan kontrol ego terhadap
impuls-impuls dan berbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional.
2.
Memahami sifat dan macam-macam mekanisme pertahanan
ego.
3. Mengembangkan kemampuan
untuk membentuk hubungan yang akrab dan sehat dengan cara
menghargai hak-hak pribadi dan orang lain.
|
|
5.
|
Peran Dan Fungsi Konselor
|
Peran konselor :
1.
Membantu konseli mencapai kesadaran diri, ketulusan
hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan
melalui cara-cara yang realistis, serta memperoleh kembali kendali atas
tingkah lakunya yang impulsif dan irasional.
2.
Konselor memberikan perhatian kepada
resistensi/penyangkalan konseli. Konselor berperan mendengarkan dengan
penuh perhatian, menganalisis dan
menginterpretasikan ungkapan-ungkapan konseli, kemudian memberikan
tafsiran-tafsiran terhadap informasi konseli, selain itu konselor juga peka
terhadap isyarat-isyarat non verbal dari konseli.
3.
Konselor memberikan penjelasan tentang makna
proses kepada konseli sehingga konseli mampu mendaptakan kendali yang lebih
rasional atas hidupnya sendiri.
Fungsi
konselor
1. Konselor berfungsi
sebagai penafsir dan penganalisis
2. Konselor bersikap anonim,
artinya konselor berusaha tak dikenal klien, dan bertindak sedikit sekali
memperlihatkan perasaan dan pengalamannya, sehingga klien dengan mudah dapat
memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis.
|
|
6.
|
Proses Konseling
|
1.
Tahap Awal
· Membangun hubungan
konseling yang melibatkan klien (rapport).
· Memperjelas dan
mendefinisikan masalah.
· Membuat penaksiran dan
perjajagan.
· Menegosiasikan kontrak :
Kontrak waktu dan tugas; Kontrak kerjasama dalam proses konseling
2.
Inti (Tahap Kerja)
· Menjelajahi dan
mengeksplorasi masalah klien lebih dalam.
· Konselor melakukan reassessment
(penilaian kembali), bersama klien meninjau kembali permasalahan yang
dihadapi klien.
· Menjaga agar hubungan
konseling tetap terpelihara.
3.
Akhir (Tahap Tindakan)
· Konselor bersama klien
membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.
· Menyusun rencana tindakan
yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses
konseling sebelumnya.
· Mengevaluasi jalannya
proses dan hasil konseling (penilaian segera).
· Membuat perjanjian untuk
pertemuan berikutnya.
|
|
7.
|
Teknik Konseling
|
1.
Asosiasi bebas : mengupayakan klien untuk
menjernihkan/mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran
sehari-hari sekarang, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa
lalunya.
2.
Analisis mimpi, klien diminta untuk mengungkapkan
tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk
menganalisisnya.
3.
Interpretasi : mengungkap apa yang terkandung dibalik
apa yang dikatakan klien, baik dalam asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan
transferensi klien.
4.
Analisis resistensi : analisis resistensi ditujukan
untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya
(resistensi).
5.
Analisis transferensi : klien diupayakan untuk
menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta,
seksualitas, kebencian, kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan
dilemparkan ke konselor.
|
|
8.
|
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
|
Kelebihan
:
1. Kehidupan mental individu
menjadi bisa dipahami, dan dapatmemahami sifat manusia untuk meredakan
penderitaan manusia.
2. Pendekatan ini dapat
mengatasi kecemasan melalui analisis atasmimpi-minpi,
resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi.
3. Pendekatan ini memberikan
kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta
untuk memahamisumber-sumber dan fungsi simptomatologi.
Keterbatasan
:
1. Pandangan yang terlalu
determistik dinilai terlalu merendahka martabat kemanusiaan.
2. Terlalu banyak menekankan
kepada masa kanak-kanak danmenganggap kehidupan seolah-olah ditentukan
oleh masa lalu. Halini memberikan gambaran seolah-olah tanggung
jawab individuberkurang.
3. Cenderung meminimalkan
rasionalitas.
4. Data penelitian
empiris kurang banyak mendukung sistem dankonsep psikoanalisis, seperti
konsep tentang energi psikis yangmenentukan tingkah laku manusia.
|
|
9.
|
Contoh Penerapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar