Minggu, 19 April 2015

KOMPONEN PSIKOALISA

KONSELING PSIKONALISA

NO.
KOMPONEN
URAIAN
1.
Latar Belakang Teori
1.  Manusia pada dasarnya deterministik : ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman dini. Masalah kepribadian berakar pada konflik masa kanak-kanak yang depresi.
2.  Manusia bersifat Irasional : motif dan konflik tak sadar adalah sentral perilaku manusia.
3.  Manusia memiliki kecenderungan  mengembangkan diri melalui libido dan agresivitas yang dibawa sejak lahir.
4.  Dalam diri manusia terdapat dorongan Memuaskan diri Vs Merusak diri, dorongan mati Vs Dorongan hidup.
5.  Perilaku manusia bertujuan dan mengarah untuk merendahkan ketegangan, menolak kesakitan dan mencari kenikmatan.
6.  Kegagalan dalam pemenuhan seksual mengarah pada perilaku neorosis.
7.  Pembentukan  simtom  merupakan bentuk defensif.
Manusia dengan kepribadian sehat :
·      Orang yang bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.
·      Dapat mengatasi kecemasan dan tekanan yang ada dalam hidupnya.
·      Kinerja yang seimbang antara id, ego dan super ego.
Manusia dengan kepribadian tidak sehat :
Jika terdapat dinamika yang tidak efektif antara Id, Ego dan Superego, dimungkinkan Ego selalu mengikuti dorongan-dorongannya dan mengabaikan tuntutan moral atau Ego selalu mempertahankan kata hatinya tanpa menyalurkan keinginan atau kebutuhan dan juga proses belajar yang tidak benar pada masakanak-kanak.

2.
Konsep Dasar
1.  Tokoh utama psikoanalisa, Sigmund Freud (1896) mengembangkan teori tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa. Psikoanalisa terkait dengan tradisi Jerman yang menyatakan bahwa pikiran adalah entitas yang aktif, dinamis dan bergerak dengan sendirinya.
2.  Kepribadian individu mulai terbentuk pada lima tahun petama kehidupannya. Masa kanak-kanak adalah cikal bakal manusia, dan gangguan psikis pada orang-orang dewasa pada umumnya bercikal bakal dari pengalaman masa kanak-kanak.
3.  Keperibadian manusia menurut psikoanalisis terdiri dari alam sadar, alam prasadar, dan alam bawah sadar. Sedangkan struktur Kepribadian terdiri dari Id, Ego, dan Superego.
4.  Periode Perkembangan Psikoseksual yaitu tahun pertama kehidupan (Fase oral); Usia dua tahun-tiga tahun (fase anal); Usia empat-lima tahun (fase falik).

3.
Asumsi Perilaku Bermasalah
  1.  Asumsi Determinisme psikis ( Psychic Determinism). Asumsi ini mengemukakan bahwa segala sesuatau yang dilakukan, pikirkan, atau dirasakan individu mempunyai arti dan magsud dan itu semua itu secara alami sudah di tentukan.
  2. Asumsi Motivasi tak sadar ( Unconicious Motivation). Asumsi ini meyakini bahwa sebagian besar tingkah laku individu seperti: perbuatan, berpikir dan merasa di tentukan oleh motif tak sadar.

4.
Tujuan Konseling
-      Tujuan umum
1.   Membantu konseli agar mampu mengoptimalkan fungsi ego sehingga kecemasan atau konflik intrapsikis mampu ditangani secara realistis dan tidak banyak tuntutan nafsu.
2.   Membentuk kembali struktur karakter individu, dengan cara merekonstruksi, membahas, menganalisa,dan menafsirkan kembali pengalaman masa lampau, yang terjadi di masa kanak-kanak.
Tujuan khusus
1.  Meningkatkan kesadaran dan kontrol ego terhadap impuls-impuls dan berbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional.
2.  Memahami sifat dan macam-macam mekanisme pertahanan ego.
3.  Mengembangkan kemampuan untuk membentuk hubungan yang akrab dan sehat dengan cara menghargai hak-hak pribadi dan orang lain.

5.
Peran Dan Fungsi Konselor
Peran konselor :
1.  Membantu konseli mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis, serta memperoleh kembali kendali atas tingkah lakunya yang impulsif dan irasional.
2.  Konselor memberikan perhatian kepada resistensi/penyangkalan konseli. Konselor berperan mendengarkan dengan penuh perhatian, menganalisis dan menginterpretasikan ungkapan-ungkapan konseli, kemudian memberikan tafsiran-tafsiran terhadap informasi konseli, selain itu konselor juga peka terhadap isyarat-isyarat non verbal dari konseli.
3.  Konselor memberikan penjelasan tentang makna proses kepada konseli sehingga konseli mampu mendaptakan kendali yang lebih rasional atas hidupnya sendiri.
Fungsi konselor
1.  Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis
2.  Konselor bersikap anonim, artinya konselor berusaha tak dikenal klien, dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya, sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis.

6.
Proses Konseling
1.   Tahap Awal
·  Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport).
·  Memperjelas dan mendefinisikan masalah.
·  Membuat penaksiran dan perjajagan.
·  Menegosiasikan kontrak : Kontrak waktu dan tugas; Kontrak kerjasama dalam proses konseling
2.  Inti (Tahap Kerja)
·  Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam.
·  Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.
·  Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.
3.  Akhir (Tahap Tindakan)
·  Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.
·  Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.
·  Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).
·  Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya.

7.
Teknik Konseling
1.     Asosiasi bebas : mengupayakan klien untuk menjernihkan/mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya.
2.     Analisis mimpi, klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya.
3.     Interpretasi : mengungkap apa yang terkandung dibalik apa yang dikatakan klien, baik dalam asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien.
4.     Analisis resistensi : analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi).
5.     Analisis transferensi : klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor.

8.
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
Kelebihan :
1.    Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapatmemahami sifat manusia untuk meredakan penderitaan manusia.
2.    Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atasmimpi-minpi, resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi.
3.    Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahamisumber-sumber dan fungsi simptomatologi.
Keterbatasan :
1.    Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahka martabat kemanusiaan.
2.    Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak danmenganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Halini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individuberkurang.
3.    Cenderung meminimalkan rasionalitas.
4.    Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem dankonsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi psikis yangmenentukan tingkah laku manusia.

9.
Contoh Penerapan











Tidak ada komentar:

Posting Komentar