KONSELING PERPUSAT PADA PERSON
|
NO.
|
KOMPONEN
|
URAIAN
|
|
1.
|
Latar Belakang Teori
|
Terapi yang
berpusat kepada pribadi sering disebut juga terapi yang berpusat pada klien,
konseling teori diri (self theory) atau terapi Rogerian. Disebut sebagai
terapi Rogerian karena Carl Ransom Roger merupakan pelopor sekaligus tokoh
konseling. Carl R. Rogers dilahirkan pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park
Illionis. Berbeda dengan psikologi behaviorisme, Carl Rogers lebih menekankan
pentingnya relasi antarpribadi dengan sikap saling menghargai dan tanpa
prasangka (antara klien dan terapis) dalam individu mengatasi masalah-masalah
kehidupannya serta dalam mempermudah perkembangan kepribadian.
Rogers meyakini
bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban sendiri atas permasalahan dan masalah
yang dihadapinya dan tugas terapis hanya membimbing klien menemukan jawaban
yang benar. Konsep utama dari Roger bahwa organisme manusia pada hakekatnya
mempunyai tujuan tertentu dan berkembang maju ke depan. Organisme bersifat konstruktif,
realistik, progresif, dapat dipercaya dan serta kodrat alamiah memiliki
potensi untuk berkembang.
Ciri-ciri person centered therapy atau client centered therapy Carl Rogers (dalam gunarsa,1996)
dalam bukunya “Counseling and Psychotherapy”
menjelaskan mengenai ciri-ciri dari client centered therapy sebagai berikut:
1. Perhatian diarahkan kepada pribadi klien dan bukan kepada
masalahnya. Tujuannya bukan memecahkan suatu masalah tertentu tetapi membantu
seseorang untuk tumbuh sehingga ia bisa mengatasi masalah baik masalah
sekarng maupun masalah yang akan datang dengan cara yang lebih baik dan lebih
tepat.
2. Hal yang kedua ialah penekanan lebih banyak terhadap faktor
emosi daripada terhadap faktor intelektual. Dalam kenyataannya, banyak perbuatan
yang dipengaruhi oleh emosi daripada oleh pikiran artinya seseorang bisa
mengerathui bahwa suatu perbuatan sebenarnya tidak baikjadi secara rasional,
intelektual, ia mengetahui itu dan tahu pula bahwa ia tidak boleh melakukan
itu namun kenyataannya lain.
3. Hal yang ketiga memberikan tekanan yang lebih besar
terhadap keadaan yang ada sekarang daripada terhadap apa yang sudah lewat
atau terjadi.
4. Hal yang keempat ialah penekanan hubungan terapuetik itu
sendiri sebagai tumbuhnya pengalaman. Di sini seseorang belajar memahami diri
sendiri, membuat keputusan yang penting dengan bebas dan bisa sukses
berhubungan dengan orang lain secara dewasa.
5. Proses terapi merupakan penyelarasian antara gambaran diri
klien dengan keadaan dan pengalaman diri yang sesungguhnya
6. Klien memegang peranan aktif dalam konseling sedangkan
konselor bersifat pasif-reflektif
|
|
2.
|
Konsep Dasar
|
Menekankan pada dorongan dan kemampuan yang
terdapat dalam diri individu yang berkembang, untuk hidup sehat dan
menyesuaikan diri.
• Menekankan pada unsur atau aspek emosional dan tidak pada aspek intelektual. • Menekankan pada situasi yang langsung dihadapi individu, dan tidak pada masa lampau. • Menekankan pada hubungan terapeutik sebagai pengalaman dalam perkembangan individu yang bersangkutan. |
|
3.
|
Asumsi Perilaku Bermasalah
|
|
|
4.
|
Tujuan Konseling
|
Terdapat
beberapa tujuan pendekatan terapi Client Centered yaitu sebagai
berikut :
a. Keterbukaan
pada Pengalaman
Sebagai
lawan dari kebertahanan, keterbukaan pada pengalamam menyiratkan menjadi
lebih sadar terhadap kenyataan sebagaimana kenyataan itu hadir di luar
dirinya.
b. KepercayaanpadaOrganismeSendiri
Salah
satu tujuan terapi adalah membantu klien dalam membangun rasa percaya
terhadap diri sendiri. Dengan meningknya keterbukaan klien terhadap
pengalaman-pengalamannya sendiri, kepercayaan kilen kepada dirinya sendiri
pun muali timbul.
c. Tempat
Evaluasi Internal
Tempat
evaluasi internal ini berkaitan dengan kepercayaan diri, yang berarti lebih
banyak mencari jawaban-jawaban pada diri sendiri bagi masalah-masalah
keberadaannya. Orang semakin menaruh perhatian pada pusat dirinya dari pada
mencari pengesahan bagi kepribadiannya dari luar. Dia mengganti persetujuan
universal dari orang lain dengan persetujuan dari dirinya sendiri. Dia
menetapkan standar-standar tingkah laku dan melihat ke dalam dirinya sendiri
dalam membuat putusan-putusan dan pilihan-pilihan bagi hidupnya.
d. Kesediaan
untuk menjadi Satu Proses.
Konsep
tentang diri dalam proses pemenjadian merupakan lawan dari konsep diri
sebagai produk. Walaupun klien boleh jadi menjalani terapi untuk mencari
sejenis formula guna membangun keadaan berhasil dan berbahagia, tapi mereka
menjadi sadar bahwa peretumbuhan adalah suatu proses yang berkesinambungan. Para
klien dalam terapi berada dalam proses pengujian persepsi-persepsi dan
kepercayaan-kepercayaannya serta membuka diri bagi pengalaman-pengalaman
baru, bahkan beberapa revisi.
e. Menciptakan
suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorasi diri sehingga dapat
mengenal hambatan pertumbuhannya.
f. Membantu
klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayaanyang lebih besar
kepada dirinya,keinginan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan meningkatkan
spontanitas hidupnya.
g. Menyediakan
iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga
konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration,
menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan.
h. Konseli
cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar,
lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih
hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk
apa ia perlu menjadi.
i. Mampu
memandirikan klien untuk mengatasi permasalahannya, serta membantu klien
untuk mencapai perkembangan yang optimal dalam hidupnya.
|
|
5.
|
Peran Dan Fungsi Konselor
|
|
|
6.
|
Proses Konseling
|
Konseling
yang berpusat pada klien memusatkan pada pengalaman individu. Dalam proses
disorganisasi dan reorganisasi diri, konseling berupaya untuk meminimalkan
rasa diri terancam dan memaksimalkan serta menopang eksplorasi diri.
Wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan
timbal balik. Tujuan konseling yang berpusat pada klien ini adalah
menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk eksplorasi diri sehingga
dapat mengenal hambatan pertumbuhannya dan dapat mengalami aspek dari
sebelumnya terganggu. Selain itu membantu klien agar dapat bergerak ke arah
keterbukaan, kepercayaan yang lebih besar kepada dirinya, keinginan untuk
menjadi pribadi dan meningkatkan spontanitas hidup. Klien dikatakan sudah
sembuh apabila:
1.Kepribadiannya terintegrasi,
dan mampu menyelesaikan masalahnya yang dihadapinya atas tanggung jawab diri,
memiliki gambaran diri yang serasi dengan pengalaman sendiri
2. Mempunyai gambaran diri
dalama rti memandang fakta yang lama dengan pandangan baru
3. Mengenal dan menerima diri
sendiri sebagaimana adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan
4. Dapat memilih dan menenukan
tujuan hidup atas tanggung jawab sendiri
Konselor yang efektif dalam konseling yang berpusat pada klien adalah
seseorang yang dapat mengembangkan sikap dalam organisasi pribadinya dan
dapat menerapkan secara konsisten dengan teknik konseling yang
digunakan. Karakteristik konselor yang efektif adalah:
1. Berupaya untuk memahami
apa yang dikatakan klien dalam kaitannya dengan isi dan perasaan dan kemudian
mengkomunikasikanpemahaman ini pada klien
2. Menafsirkan apa
yang telah dikatakan klien dengan menawarkan sintesis perasaan yang telah
dikemukakan
3. Menerima apa yang telah
dikatakan klien dengan dengan implikasi bahwa apa yang telah dikatakan itu
telah dipahami
4. Setelah isu (masalah) jelas,
dapat menetapkan hubungan terapeutik, situasi yang diharapkan, dan batas
hubungan konselor klien
5. Berusaha berhubungan
klien dengan gesture (isyarat badan), penampilan, ekspresi muka, kata-kata,
sehingga klien merasa diterima dan percaya dalam mencapai kecakapan
memecahkan masalah
6. Menjawab pertanyaan dan
memberi informasi
7. Secara aktif
berpartisipasi dalam situasi terapi
|
|
7.
|
Teknik Konseling
|
Teknik-teknik dalam pendekatan ini antara lain
adalah :
a. acceptance (penerimaan)
b. respect (rasa
hormat)
c. understanding (pemahaman)
d. reassurance (menentramkan
hati)
e. encouragementlimited
questioning(pertanyaan terbatas
f. reflection (memantulkan
pernyataan dan perasaan)
Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan
konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik;
(2) mengambil keputusan yang tepat; (3) mengarahkan diri; (4) mewujudkan
dirinya
|
|
8.
|
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
|
Kelebihan
dari pendekatan ini antara lain :
1. Pemusatan
pada klien dan bukan pada terapist.
2. Identifikasi
dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
3. Lebih
menekankan pada sikap terapi daripada teknik.
4. Memberikan
kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
5. Penekanan
emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi
6. Menawarkan
perspektif yang lebih up-to-date dan optimis
7. Klien
memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam
menyelesaiakan masalahnya
8. Klien
merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka
mendengarkan dan tidak dijustifikasi
Kelemahan
dari pedekatan ini antara lain :
1. Terapi
berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana
2. Terlalu
menekankan aspek afektif, emosional, perasaan
3. Tujuan
untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum
sehingga sulit untuk menilai individu.
4. Tidak
cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil
tanggungjawabnya.
5. Sulit
bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.
6. Terapi
menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan
dan bercerita saja tidaklah cukup
7. Tidak
bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah
8. Minim
teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya
|
|
9.
|
Contoh Penerapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar