Minggu, 19 April 2015

KOMPONEN BERPUSAT PADA PERSON

KONSELING PERPUSAT PADA PERSON

NO.
KOMPONEN
URAIAN
1.
Latar Belakang Teori
 Terapi  yang berpusat kepada pribadi sering disebut juga terapi yang berpusat pada klien, konseling teori diri (self theory) atau terapi Rogerian. Disebut sebagai terapi Rogerian karena Carl Ransom Roger merupakan pelopor sekaligus tokoh konseling. Carl R. Rogers dilahirkan pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park Illionis. Berbeda dengan psikologi behaviorisme, Carl Rogers lebih menekankan pentingnya relasi antarpribadi dengan sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapis) dalam individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya serta dalam mempermudah perkembangan kepribadian.
        Rogers meyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban sendiri atas permasalahan dan masalah yang dihadapinya dan tugas terapis hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Konsep utama dari Roger bahwa organisme manusia pada hakekatnya mempunyai tujuan tertentu dan berkembang maju ke depan. Organisme bersifat konstruktif, realistik, progresif, dapat dipercaya dan serta kodrat alamiah memiliki potensi untuk berkembang.
        Ciri-ciri person centered therapy atau client centered therapy Carl Rogers (dalam gunarsa,1996) dalam bukunya “Counseling and Psychotherapy” menjelaskan mengenai ciri-ciri dari client centered therapy sebagai berikut:
1. Perhatian diarahkan kepada pribadi klien dan bukan kepada masalahnya. Tujuannya bukan memecahkan suatu masalah tertentu tetapi membantu seseorang untuk tumbuh sehingga ia bisa mengatasi masalah baik masalah sekarng maupun masalah yang akan datang dengan cara yang lebih baik dan lebih tepat.
2. Hal yang kedua ialah penekanan lebih banyak terhadap faktor emosi daripada terhadap faktor intelektual. Dalam kenyataannya, banyak perbuatan yang dipengaruhi oleh emosi daripada oleh pikiran artinya seseorang bisa mengerathui bahwa suatu perbuatan sebenarnya tidak baikjadi secara rasional, intelektual, ia mengetahui itu dan tahu pula bahwa ia tidak boleh melakukan itu namun kenyataannya lain.
3. Hal yang ketiga memberikan tekanan yang lebih besar terhadap keadaan yang ada sekarang daripada terhadap apa yang sudah lewat atau terjadi.
4. Hal yang keempat ialah penekanan hubungan terapuetik itu sendiri sebagai tumbuhnya pengalaman. Di sini seseorang belajar memahami diri sendiri, membuat keputusan yang penting dengan bebas dan bisa sukses berhubungan dengan orang lain secara dewasa.
5. Proses terapi merupakan penyelarasian antara gambaran diri klien dengan keadaan dan pengalaman diri yang sesungguhnya
6. Klien memegang peranan aktif dalam konseling sedangkan konselor bersifat pasif-reflektif

2.
Konsep Dasar
Menekankan pada dorongan dan kemampuan yang terdapat dalam diri individu yang berkembang, untuk hidup sehat dan menyesuaikan diri.
• Menekankan pada unsur atau aspek emosional dan tidak pada aspek intelektual.
• Menekankan pada situasi yang langsung dihadapi individu, dan tidak pada masa lampau.
• Menekankan pada hubungan terapeutik sebagai pengalaman dalam perkembangan individu yang bersangkutan.
3.
Asumsi Perilaku Bermasalah

4.
Tujuan Konseling
Terdapat beberapa tujuan pendekatan terapi Client Centered yaitu sebagai berikut :
a.       Keterbukaan pada Pengalaman
Sebagai lawan dari kebertahanan, keterbukaan pada pengalamam menyiratkan menjadi lebih sadar terhadap kenyataan sebagaimana kenyataan itu hadir di luar dirinya.


b.      KepercayaanpadaOrganismeSendiri
Salah satu tujuan terapi adalah membantu klien dalam membangun rasa percaya terhadap diri sendiri. Dengan meningknya keterbukaan klien terhadap pengalaman-pengalamannya sendiri, kepercayaan kilen kepada dirinya sendiri pun muali timbul.
c.       Tempat Evaluasi Internal
Tempat evaluasi internal ini berkaitan dengan kepercayaan diri, yang berarti lebih banyak mencari jawaban-jawaban pada diri sendiri bagi masalah-masalah keberadaannya. Orang semakin menaruh perhatian pada pusat dirinya dari pada mencari pengesahan bagi kepribadiannya dari luar. Dia mengganti persetujuan universal dari orang lain dengan persetujuan dari dirinya sendiri. Dia menetapkan standar-standar tingkah laku dan melihat ke dalam dirinya sendiri dalam membuat putusan-putusan dan pilihan-pilihan bagi hidupnya.
d.      Kesediaan untuk menjadi Satu Proses.
Konsep tentang diri dalam proses pemenjadian merupakan lawan dari konsep diri sebagai produk. Walaupun klien boleh jadi menjalani terapi untuk mencari sejenis formula guna membangun keadaan berhasil dan berbahagia, tapi mereka menjadi sadar bahwa peretumbuhan adalah suatu proses yang berkesinambungan. Para klien dalam terapi berada dalam proses pengujian persepsi-persepsi dan kepercayaan-kepercayaannya serta membuka diri bagi pengalaman-pengalaman baru, bahkan beberapa revisi.
e.       Menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorasi diri sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya.
f.       Membantu klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayaanyang lebih besar kepada dirinya,keinginan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan meningkatkan spontanitas hidupnya.
g.      Menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan.
h.      Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.
i.        Mampu memandirikan klien untuk mengatasi permasalahannya, serta membantu klien untuk mencapai perkembangan yang optimal dalam hidupnya.

5.
Peran Dan Fungsi Konselor

6.
Proses Konseling
 Konseling yang berpusat pada klien memusatkan pada pengalaman individu. Dalam proses disorganisasi dan reorganisasi diri, konseling berupaya untuk meminimalkan rasa diri terancam dan memaksimalkan serta menopang eksplorasi diri. Wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan timbal balik.  Tujuan konseling yang berpusat pada klien ini adalah menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk eksplorasi diri sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya dan dapat mengalami aspek dari sebelumnya terganggu. Selain itu membantu klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayaan yang lebih besar kepada dirinya, keinginan untuk menjadi pribadi dan meningkatkan spontanitas hidup. Klien dikatakan sudah sembuh apabila:
1.Kepribadiannya terintegrasi, dan mampu menyelesaikan masalahnya yang dihadapinya atas tanggung jawab diri, memiliki gambaran diri yang serasi dengan pengalaman sendiri
2. Mempunyai gambaran diri dalama rti memandang fakta yang lama dengan pandangan baru
3. Mengenal dan menerima diri sendiri sebagaimana adanya dengan   segala kekurangan dan kelebihan
4. Dapat memilih dan menenukan tujuan hidup atas tanggung jawab sendiri
        Konselor yang efektif dalam konseling yang berpusat pada klien adalah seseorang yang dapat mengembangkan sikap dalam organisasi pribadinya dan dapat menerapkan secara konsisten  dengan teknik konseling yang digunakan. Karakteristik konselor yang efektif adalah:
1.  Berupaya untuk memahami apa yang dikatakan klien dalam kaitannya dengan isi dan perasaan dan kemudian mengkomunikasikanpemahaman ini pada klien
2.   Menafsirkan apa yang telah dikatakan klien dengan menawarkan sintesis perasaan yang telah dikemukakan
3.  Menerima apa yang telah dikatakan klien dengan dengan implikasi bahwa apa yang telah dikatakan itu telah dipahami
4. Setelah isu (masalah) jelas, dapat menetapkan hubungan terapeutik, situasi yang diharapkan, dan batas hubungan konselor klien
5.  Berusaha berhubungan klien dengan gesture (isyarat badan), penampilan, ekspresi muka, kata-kata, sehingga klien merasa diterima dan percaya dalam mencapai kecakapan memecahkan masalah
6.  Menjawab pertanyaan dan memberi informasi
7.   Secara aktif berpartisipasi dalam situasi terapi

7.
Teknik Konseling
Teknik-teknik dalam pendekatan ini antara lain adalah :
a.       acceptance (penerimaan)
b.      respect (rasa hormat)
c.       understanding (pemahaman)
d.      reassurance (menentramkan hati)
e.       encouragementlimited questioning(pertanyaan terbatas
f.       reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan)
Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik; (2) mengambil keputusan yang tepat; (3) mengarahkan diri; (4) mewujudkan dirinya

8.
Kelebihan dan Keterbatasan Teori
Kelebihan dari pendekatan ini antara lain :
1.      Pemusatan pada klien dan bukan pada terapist.
2.      Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
3.      Lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik.
4.      Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
5.      Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi
6.      Menawarkan perspektif yang lebih up-to-date dan optimis
7.      Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya
8.      Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi
Kelemahan dari pedekatan ini antara lain :
1.      Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana
2.      Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan
3.      Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.
4.      Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.
5.      Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.
6.      Terapi  menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup
7.      Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah
8.      Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya


9.
Contoh Penerapan















Tidak ada komentar:

Posting Komentar